'Jangan Samakan Pasar Saham Sekarang Dengan Krismon 1998 dan 2008'

'Jangan Samakan Pasar Saham Sekarang Dengan Krismon 1998 dan 2008'

ang - detikFinance
Kamis, 27 Agu 2015 15:55 WIB
Jangan Samakan Pasar Saham Sekarang Dengan Krismon 1998 dan 2008
Foto: Idris/detikFinance
Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan situasi pasar modal Indonesia masih jauh dari krisis. Awal pekan ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat jatuh cukup dalam, tapi kini sudah mulai membaik.

"Fundamental Indonesai masih kuat, jangan disamakan pasar bursa efek saat tahun 1998 dan 2008 dengan saat ini. Saat ini kondisi fundamental jauh lebih kuat," kata Direktur Utama BEI, Tito Sulistio, dalam paparan di kantornya, SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (27/8/2015).

Ia mengatakan, berdasarkan laporan keuangan emiten semester I-2015 sebanyak 329 emiten, atau sekitar 73% dari total emiten telah melaporkan hasil kinerja yang positif. Selain itu, dari 20 emiten berkapitalisasi terbesar sebanyak 18 perusahaan membukukan untung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Secara fundamental emiten kita masih sangat kuat. Kalau jatuhnya Indeks seperti hari Senin itu hanya efek psikologi saja," jelasnya.

Tito menambahkan, BEI juga sudah mengeluarkan kebijakan dalam mengantisipasi jatuhnya pasar saham. Ada lima langkah yang dilakukan BEI, yaitu:

  • Penyesuaian aturan auto rejection
  • Meningkatkan kepercayaan investor dengan menaikkan dana perlindungan pemodal jadi Rp 100 juta.
  • Meningkatkan komunikasi dan koordinasi dengan seluruh stakeholder terutama broker
  • Meningkatkan pengawasan terhadap kegiatan transaksi di luar ketentuan seperti aktivitas marjin dan short selling
  • Konsisten dalam pengelolaan risiko untuk jamin kelangsungan sistem perdagangan
"Indonesia ini bukan satu-satunya negara yang Indeksnya mengalami kejatuhan, tapi ini terjadi secara global," jelasnya.

Secara year to date (ytd), semua pasar saham di regional bergerak minus, paling dalam Indonesia dengan koreksi 18.93%. Sementara yang bisa tumbuh hanya bursa Jepang sebesar 5,31%.

(ang/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads