"Mereka sesukanya ambil sumber daya alam kita, keuntungannya dibawa ke luar, sudah begitu mereka malah listing di luar negeri. Kita nggak dapat apa-apa," kata Tito di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (26/8/2015).
Tito menuturkan, dengan melantainya perusahaan asing, khususnya sektor tambang dan agrobisnis, keuntungan dari kekayaan alam yang dikeruk perusahaan tersebut bisa dirasakan manfaatnya oleh rakyat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tito menyebut, saat ini ada 16 korporasi asing yang induknya tercatat di pasar modal di luar negeri dan memperoleh kontrak jangka panjang mengeruk sumber daya alam tanah air.
"Jadi ada 16 perusahaan. Kalau saya sebutkan 2 pasti tahulah kalian, sudah dari kapan mereka ambil keuntingan di Indonesia. Listed dong di sini. Kemudian ada satu yang perkebunan, Wilmar, listing-nya malah di Singapura," ucap Tito.
Dalam mendorong perusahaan-perusahaan asing tersebut melantai di BEI, lanjut Tito, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya persuasif.
"Saya sudah berkali-kali bilang ke OJK, bahkan bicara dengan decision maker mereka. Bahkan, kalau perlu saya rela tidur depan kantor mereka, saya teriak-teriak terus cari dukungan," tambahnya.
(ang/ang)











































