"Krisis akan selalu berlalu, kepanikan pelaku pasar akan selalu reda. Saya melihat kepanikan pasar akan mereda sebelum akhir tahun. Mungkin 1-2 bulan lagi (kondisi ekonomi) sudah normal," kata Plt Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Fauzi Ichsan, dalam Media Gathering di sebuah rumah makan kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (9/9/2015).
Belajar dari berbagai krisis ekonomi yang pernah terjadi, sambung Fauzi, situasi krisis begitu cepat datang namun begitu cepat juga berlalu. "Ini yang kita lihat di Meksiko tahun 1995, krisis 1998, Argentina tahun 2001, dan krisis 2008. Akan terjadi rebound (kurs mata uang) ketika kepercayaan investor pulih," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak terkejut jika kenaikan suku bunga The Fed ditunda sampai Desember atau semester pertama tahun depan. Penguatan dolar memukul ekspor mereka," tukasnya.
Ketika kenaikan bunga acuan The Fed ditunda, para investor akan kembali menaruh uangnya di negara-negara berkembang yang mematok suku bunga jauh lebih tinggi, sehingga nilai tukar mata uang negara-negara berkembang bakal kembali terkerek.
"Kami melihat gejolak pasar finansial ini temporer. Sewaktu bergejolak, investor mengalihkan simpanan mereka ke dolar. Namun di pasar uang Amerika bunganya masih rendah, hanya 0,25 persen. Kalau keadaan membaik mereka (investor) akan kembali ke emerging market," dia menerangkan.
Setelah kenaikan suku bunga The Fed ditunda dan keadaan ekonomi China kembali stabil, negara-negara berkembang akan kembali menikmati gelontoran dolar. "Kalau China sudah stabil, The Fed menunda kenaikan suku bunga, setelah keadaan membaik, mereka (investor) akan parkir uang kembali ke negara-negara berkembang," katanya.
Ketika krisis berlalu dan kepanikan pelaku pasar mereda, mereka akan kembali menyimpan dolar di pasar obiligasi Indonesia, sehingga dolar bisa turun kembali ke bawah Rp 14.000. "Jadi kemungkinan rupiah kembali menguat di bawah 14.000 per dolar itu besar," tandas Fauzi.
Meski begitu, bukan berarti pemerintah bisa santai-santai dan berpangku tangan. Pemerintah harus segera mengambil langkah-langkah untuk mengembalikan kepercayaan investor agar rupiah tidak semakin terpuruk. "Pemerintah harus mengambil tindakan yang pro aktif untuk mengembalikan kepercayaan investor," pungkasnya.
(dnl/dnl)











































