Dulu, saham-saham BUMN bisa menjadi sandaran di saat yang lain kinerjanya merosot. Namun, kondisi sekarang berbeda, saham-saham BUMN tak 'sakti' lagi.
Analis dari Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan mengungkapkan, hal tersebut membuat cemas para investor. Saham-saham BUMN kini tidak lagi menjadi andalan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Haryajid mengatakan, dari 20 emiten BUMN yang dianalisa, hampir seluruhnya mencatatkan kinerja negatif. Ini menjadi rapor merah BUMN.
"Dari 20 emiten yang saya lihat ini terus terang data-datanya miris. Raportnya merah BUMN tahun ini, jadi harus ada perhatian pemerintah," ucap dia.
Haryajid menyebutkan, saham-saham pelat merah hingga year to date (ytd) sebagian kinerjanya negatif. Berikut kinerja sama BUMN sepanjang 2015:
- Telkom awal tahun Rp 2.770, sekarang Rp 2.765.
- Bank Mandiri Rp 10.700 jadi Rp 8.600
- BRI Rp 11.000 jadi Rp 9.700
- Semen Indonesia Rp 16.175 jadi Rp 9.700
- Antam Rp 11.300 jadi Rp 485
- PTBA Rp 13.900 jadi Rp 5.700
- Timah Rp 1.330 jadi Rp 590
- Garuda Rp 750 jadi Rp 260
- Kimia Farma Rp 1.200 jadi Rp 690
- Krakatau Steel Rp 1.300 jadi Rp 304
- Adhi Karya Rp 2.900 jadi Rp 2.230
- Wijaya Karya Rp 2.875 jadi Rp 2.730
"Penurunan angka-angka ini angka luar biasa. Jadi harus ada stimulus di BUMN. Jangan diabaikan, investor dirugikan, apakah nasib BUMN mau seperti saham BUMI? Dulu buyback dilakukan terus, sekarang malah ditunda. Kalau BUMN nggak bagus ganti saja direksinya, buyback kok setengah hati," imbuh Haryajid.
(drk/ang)











































