Hampir semua mata uang negara-negara ASEAN juga bereaksi negatif pada kondisi ekonomi yang tidak menentu seperti saat ini.
Direktur Keuangan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan, di regional Asia Tenggara, tercatat hanya mata uang Filiphina, peso, yang terbukti paling stabil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kuatnya mata uang peso, kata Tiko, tak lepas dari besarnya uang remitansi yang dikirimkan TKF yang bekerja di banyak negara. Yang membedakan, TKF bekerja dengan bekal skill mumpuni sehingga dibayar lebih tinggi ketimbang TKI.
"Coba lihat di negara-negara kaya AS, pasti yang jadi baby sitter kebanyakan orang Filipina dengan gaji besar. Karena mereka dibekali skill bahasa dan keterampilan. Beda dengan TKI, padahal jumlahnya hampir sama orang kita dan Filipina yang bekerja di luar," jelas Tiko.
"Devisa paling besar Filipina salah satunya datang dari remitansi. Sekitar US$ 15 miliar per tahun, kalau TKI kita diberi kemampuan sama kaya Filipina, saya kira rupiah kita tidak seperti ini. Bagaimana pemerintah bisa dorong ke arah situ," imbuh Tiko.
Hingga September, kata Tiko, rupiah terdepresiasi cukup dalam hingga 15,3%. Angka ini hanya lebih baik dari Rusia yang terdepresiasi sebesar 16,7%, Malaisya 23,9%, Turki 29,5%, dan Brazil 41,3%.
Sementara peso lebih kebal menghadapi gejolak kurs dengan hanya terdepresiasi sebesar 4,8%. "Coba pemerintah concern perbaiki TKI kita kaya Filipina," kata Tiko.
Faktor lainnya, lanjut Tiko, adalah iklim investasi di Filipina yang lebih baik daripada Indonesia di sektor swasta.
"Kepastian izin jelas. Juga kepastian hukum kan jelas lebih bagus. Investasi asing juga lagi bagus-bagusnya di Filipina, kaya investasi air minum dan sebagainya," tutupnya.
(ang/ang)











































