Akan tetapi diperkirakan gejolaknya tidak akan terlalu besar. Karena sebenarnya investor sudah merespons ini sejak 2 tahun silam.
Saat AS sudah mengumumkan untuk mengurangi stimulus (tapering off) yang sudah berlangsung pasca AS resesi 2009 lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penghentian stimulus diumumkan pada Agustus 2013, meskipun baru terealisasi pada Januari 2014. Saat itu dolar sudah merangkak menembus Rp 10.000.
Kemudian berlanjut terus hingga sekarang menembus Rp 14.400. Menurut Bambang hal tersebut adalah bagian dari respons investor. Di samping juga ada persoalan lain seperti krisis Yunani dan devaluasi mata uang oleh China.
"Pasti ada gejolak, tapi sebagian gejolaknya sudah diambil di depan," imbuhnya.
Namun pemerintah juga telah menyiapkan berbagai antisipasi. Melalui koordinasi dengan Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
"Ya kita sebagai FKSSK tadi meng-update kalau kondisi sektor keuangan perbankan masih aman, tapi yang kita jaga memang supaya rupiah ini bisa dikendalikan," kata Bambang.
(mkl/ang)











































