Darmin: Paket Kebijakan Ekonomi Bukan Jalan Pintas Buat Rupiah Perkasa

Darmin: Paket Kebijakan Ekonomi Bukan Jalan Pintas Buat Rupiah Perkasa

Maikel Jefriando - detikFinance
Jumat, 18 Sep 2015 16:42 WIB
Darmin: Paket Kebijakan Ekonomi Bukan Jalan Pintas Buat Rupiah Perkasa
Foto: Maikel/detikFinance
Jakarta - Paket kebijakan ekonomi dengan nama September 1 yang diterbitkan oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menuai kritik. Sebab sejak diluncurkan, tak mampu mengirimkan sentimen positif kepada para investor mempertahankan dananya di dalam negeri.

Nilai tukar rupiah pun tetap berada dalam tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dolar AS sampai menembus level Rp 14.480.

Menko Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan, memang ada dua dampak dari kebijakan tersebut. Langsung dan tidak langsung. Langsung yaitu sifatnya sentimen yang tertuju kepada investor di pasar saham.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam persoalan sentimen, Darmin menjelaskan efeknya tidak terlalu besar karena tertutupi oleh aksi spekulasi investor menjelang keputusan Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed) terkait rencana kenaikan suku bunga. Maka rupiah sulit melawan keperkasaan dolar AS.

"Soal nilai tukar rupiah ini persoalanya susah melokalisir dampaknya itu saja. Tapi intinya bagaimana menjelaskan adanya harapan tidak keluar dana dari dalam negeri kalau kebijakan ini dikeluarkan," ungkap Darmin dalam konferensi pers di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (18/9/2015)

Namun, menurut Darmin, setidaknya investor sudah paham arah yang diambil pemerintah, yaitu mendorong investasi dan ekspor. Sehingga kemudian bisa muncul dampak tidak langsung, yaitu peningkatan investasi asing (Foreign Direct Investment/FDI). Dana yang masuk nantinya tidak hanya berpengaruh ke rupiah, namun juga ke pertumbuhan ekonomi.

"Kalau mereka tahu iklim investasi membaik ada harapan itu investasi akan naik. Kalau itu terjadi situasi akan membaik. Tentu tetap saja akan nanti terbukti atau tidak dalam prosesnya akan terlihat 2-3 tahun lagi. Kalau sekarang mereka itu masih banyak yang wait and see. Karena selain melihat arahnya mereka juga butuh mengetahui sedikit gambaran kedepannya seperti apa," sebutnya.

Begitulah proses mengaplikasikan kebijakan dalam perekonomian makro. Karena banyak sekali hal-hal yang di luar kontrol mempengaruhi. Seperti dalam kondisi sekarang adalah kebijakan dari Bank Sentral AS.

"Ini bukan jalan pintas yang dikeluarkan kebijakan itu langsung keluar nanti efeknya ke rupiah. Ini harus membentuk espektasi dan kepercayaan yang dalam realitasnya itu mesti bekerja," tegas Darmin.

(mkl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads