Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 22 Sep 2015 14:48 WIB

Dolar AS Tembus Rp 14.500, LPS: Tidak Perlu Khawatir

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Jakarta - Rupiah tak kuasa menahan tekanan dolar Amerika Serikat (AS) yang semakin perkasa. Dolar AS menyentuh level tertinggi barunya di Rp 14.518 pada siang hari ini.

Plt Direktur Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Fauzi Ichsan menilai, pelemahan rupiah bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Hal ini hanya bersifat sementara.

"Tingkat permodalan bank itu cukup besar, kalau dengan pelemahan rupiah tersebut dipicu oleh penguatan dolar AS terhadap mata uang Asia secara umum, ini bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Kami juga melihatnya sebagai sesuatu yang sifatnya temporer," ujar Fauzi, dalam acara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-10, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Seminar dengan tema 'Managing Financial Turbulence', di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Selasa (22/9/2015).

Fauzi menjelaskan, ada beberapa alasan yang mendorong rupiah terus melemah. Pertama adalah devaluasi mata uang China yaitu yuan. Selain itu, perlambatan ekonomi China, faktor politik di Malaysia, dan ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS, yaitu The Federal Reserve (The Fed).

"Faktor-faktor tersebut memang memukul mata uang negara berkembang terutama yang bergantung pada komoditas seperti Indonesia, Brasil, Rusia," jelas dia.

Menurutnya, Indonesia masih akan menunggu kepastian The Fed menaikkan tingkat suku bunganya, yang diperkirakan akan dilakukan pada Desember 2015.

Meski masih muncul ketidakpastian, rupiah masih berpeluang untuk kembali menguat. Setelah ketidakpastian tersebut selesai, dana-dana asing akan kembali masuk ke Indonesia.

"Kami melihat bahwa paling cepat kenaikannya di bulan Desember bahkan bisa di semester pertama tahun 2016. Otomatis investor global yang telah menarik dana dari negara berkembang dan sekarang memarkir dana mereka di pasar uang dolar AS akan kembali," terang dia.

Fauzi menyebutkan, pasar keuangan Indonesia masih cukup kompetitif dibanding negara lainnya. Suku bunga yang tinggi menjadikan Indonesia, dilirik sebagai salah satu negara yang menguntungkan.

"Kalau kita lihat pasar uang dolar LIBOR itu di 0,3%, SUN US Treasury tenor 10 tahun itu imbal hasilnya 2,2-2,3%," sebut dia.

Fauzi menambahkan, saat pasar keuangan kembali normal, para investor akan kembali mencari negara dengan pengamanan aset yang menguntungkan seperti Indonesia.

"Dalam keadaan normal sewaktu para investor global itu kepanikannya reda, mereka akan kembali mencari aset finansial yang murah dan imbal hasilnya tinggi. Dan Indonesia adalah salah satu dari negara yang memang menawarkan aset yang murah dan imbal hasil SBN-nya tinggi," paparnya.

Menurut Fauzi, posisi nilai tukar rupiah saat ini memang sudah melewati batas nilai wajarnya. Artinya, pelemahannya sudah terlalu dalam.

"Kalau kita lihat fair value (nilai wajar) kurs dolar rupiah itu kan di Rp 12.000, jadi kalau misal kurs dolar di Rp 14.500 itu jauh dari fair value. Tentu dalam keadaan kepanikan pasar, fair value bisa jauh dari market value. Tetapi dalam keadaan normal, market value akan mendekati fair value," jelas dia.

Kendati demikian, Fauzi meyakini, rupiah masih punya peluang untuk menguat di akhir tahun jika keadaan global normal.

"Masih ada ruang buat rupiah untuk rebound ke arah Rp 14.000 bahkan di bawah Rp 14.000 jika keadaan global normal. Keadaannya sekarang tidak normal, masih banyak kepanikan pasar," tandasnya.

(drk/dnl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com