Direktur PT Penilai Harga Efek Indonesia (Indonesia Bond Pricing Agency), Wahyu Trenggono, mengatakan bila investor hanya punya informasi dan pengetahuan minim dalam investasi, sebaiknya menahan dananya dalam posisi cash alias tunai.
"Dalam situasi ketidakpastian tinggi, nggak tahu seberapa besar yield dan risiko. Sebaiknya pegang cash," kata Wahyu dalam diskusi rutin di Gedung BEI, Jakarta, Senin (5/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Investor bisa mengganti instrumen investasi ke obligasi. Alasannya, fluktuasi harga saham saat ini sangat tinggi dibandingkan surat utang. Surat utang (korporasi dan pemerintah) memiliki hasil atau yield 9% sampai 10% serta tingkat risiko lebih kecil.
"Bisa di-shifting dari saham ke instrumen berbasis surat utang," ujarnya.
Β
Pasar surat utang bisa dikatakan sebagai instrumen investasi dengan tingkat risiko lebih kecil daripada pasar saham. Namun, Wahyu memberi masukan kepada investor khususnya asing bila ingin menempatkan dana di obligasi pemerintah yang menggunakan pecahan rupiah.
Saat ini, yield atau suku bunga yang ditawarkan cukup tinggi berkisar 9% sampai 10% sehingga menarik para investor jangka pendek.
Meski terbilang tinggi, namun investor asing bisa rugi bila hanya menempatkan uang dalam jangka pendek. Alasannya, investor asing bisa terkenna risiko kurs.
"Masuk beli rupiah di awal tahun, dia bisa rugi (kurs) 18%. Dia berharap untung yield (obligasi) 9% namun ada rugi kurs 18% jadi dia minus 9%. Investor jangka pendek (asing) sebaiknya masuk global bond (dolar AS), mesti nggak terlalu besar yield-nya daripada domestik bond," tuturnya.
(feb/ang)










































