Porsi Asing di Surat Utang Pemerintah RI Terus Berkurang

Porsi Asing di Surat Utang Pemerintah RI Terus Berkurang

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Senin, 05 Okt 2015 18:46 WIB
Porsi Asing di Surat Utang Pemerintah RI Terus Berkurang
Jakarta - PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) mencatat ada penurunan jumlah investor asing yang menaruh dana di dalam surat utang, khususnya surat utang pemerintah.

Dari data Juli sampai September 2015, dana investor asing di surat utang pemerintah terus menurun yakni dari Rp 533 triliun di bulan Juli menjadi Rp 524 triliun di bulan September.

"Porsi asing besar 40% sekarang turun 37%. Ketergantungan dana luar masih besar," kata Direktur PHEI, Wahyu Trenggono, dalam diskusi rutin di Gedung BEI, Jakarta, Senin (5/10/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk menahan keluarnya aliran dana asing, pemerintah telah menaikkan suku bunga (yield) dari surat utang. Meski demikian, investor asing masih berhati-hati menaruh dana di Indonesia karena pertimbangan fluktuasi nilai tukar.

Apalagi, pengaruh perlambatan ekonomi China hingga rencana Bank Setral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), menyesuaikan suku bunga ikut berkontribusi memberi sentimen kepada investor asing.

"Asing tahun ini mau taruh dana di Indonesia hati-hati. Rupiah melemah dan mereka sudah menghitung terkena imbas pelemahan rupiah. Masuk ke Indonesia, nggak bisa tahun depan tarik tapi harus taruh 10-15 tahun," ujarnya.

Penurunan jumlah investor asing pada instrumen obligasi pemerintah tergambar pada total obligasi selama bulan September 2015. Dana di surat utang milik pemerintah Rp 226,38 triliun pada September, turun dari bulan lalu yang senilai Rp 235,72 triliun.

Kondisi terlihat berbeda dengan pada obligasi korporasi. Trennya, jumlah dana yang ditempatkan pada obligasi korporasi meningkat dari bulan Agustus ke September yakni dari Rp 14,81 triliun menjadi Rp 18,58 triliun.

"Yield obligasi korporasi level awal sudah tinggi 9-10%," ujarnya.

Meski demikian, PHEI mencatat dana asing di obligasi korporasi juga mengalami penurunan. Pada Agustus senilai Rp 8,97 triliun menjadi Rp 8,67 triliun di September.

(feb/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads