Pagi tadi, dolar AS dibuka di level Rp 13.561 dan sempat menyentuh level tertingginya di angka yang sama, dan level terendahnya di Rp 13.290.
Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), David Sumual menilai, penguatan rupiah yang cukup signifikan ini merespons hasil meeting The Federal Open Market Committee (FOMC) semalam, yang memberikan sinyal jika bank sentral AS, yaitu Federal Reserve (The Fed), tidak akan menaikkan tingkat suku bunganya setidaknya hingga akhir tahun ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
David menjelaskan, penguatan rupiah saat ini sudah cukup tinggi bahkan lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain di Asia. Sinyal The Fed yang diyakini pelaku pasar tidak akan menaikkan suku bunga acuannya di tahun ini, dibarengi dengan peluncuran paket kebijakan ekonomi pemerintah jilid III memberikan sentimen positif di pasar keuangan.
"Rupiah sama ringgit penguatannya paling tinggi dibanding emerging market lainnya. Mungkin kemarin investor melihat kalau rupiah dan ringgit terlalu melemah sehingga murah, jadi saat ada sinyal The Fed tidak jadi naikkan suku bunga, mereka beli," jelas dia.
(drk/ang)











































