Utang China Rp 39 T, Perbanas: Mengurangi Tekanan Dolar AS

Utang China Rp 39 T, Perbanas: Mengurangi Tekanan Dolar AS

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Senin, 12 Okt 2015 17:20 WIB
Utang China Rp 39 T, Perbanas: Mengurangi Tekanan Dolar AS
Jakarta - Utang dari Bank Pembangunan China (China Development Bank/CBD) senilai US$ 3 miliar (Rp 39 triliun) dinilai mengurangi tekanan rupiah atas penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

Sebab, pinjaman tersebut diberikan kepada 3 bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam bentuk dolar AS dan yuan China. Sehingga RI yang kekurangan pasokan dolar AS di dalam negeri bisa mendapat sedikit 'bantuan'

Ketua Perbanas Sigit Pramono mengatakan, saat ini rupiah sudah masuk soft currencies yang nilainya dipengaruhi oleh hard currencies seperti dolar AS dan yuan China. Jadi pengaruh eksternal terhadap rupiah sudah sangat besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Naik-turunnya rupiah sangat tergantung dengan negara-negara hard currencies, jadi ini lebih ke faktor eksternal, tidak bisa ada pihak yang disalahkan, ketika dalam posisi lemah," ujarnya ditemui di kantor OJK, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2015).

Sigit mengatakan, meskipun ada intervensi dari Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah tetap tidak bisa tiba-tiba menguat tajam. Cadangan devisa (cadev) RI juga bisa berkurang banyak jika terus dipakai untuk intervensi.

"Itu (utang China) lebih banyak untuk mengurangi tekanan, paling tidak itu mengurangi tekanan. Itu kan sangat jangka pendek, pinjaman kan harus dikembalikan, harus kita atur dengan baik. Yang paling ideal, rencana pembangunan jangka panjang tumbuh sangat kuat, syukur-syukur double digit 10-11%," katanya.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini jangan hanya terjadi di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saja, tapi juga harus panjang sampai ke rezim berikutnya.

"Ini bedanya pemerintah sekarang dan orde baru, mereka komitmen jangka panjang lebih terlihat. Ini perlu kesepakatan politik antara parlemen dan pemerintah dan bisa disepakati antar parlemen. Kalau mau serius bikin kuat mata uang kita ya komitmen pertumbuhan ekonomi tumbuh double digit. Kita negara nomor 16 terbesar di dunia, jadi ini bukan mustahil," katanya.

(ang/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads