Kemarin, dolar AS βsempat menguat, menyentuh posisi Rp 13.600, meski pada awal perdagangan sempat berada di level Rp 13.461.
βRupiah masih dimungkinkan melemah pada esok hari, menyusul akan diumumkannya laporan inflasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) China. Konsesus pasar memperkirakan inflasi China mencapai 1,8% yoy.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di samping itu, para investor juga menunggu data penjualan ritel Amerika Serikat (AS) yang rencananya akan diumumkan esok hari.
Kemudian juga yang akan menjadi perhatian adalah laporan neraca perdagangan Indonesia bulan September. Bila ada keberlanjutan surplus, maka akan cukup mampu memberikan sentimen positif untuk investor.
"Kami memprediksi bahwa neraca perdaganganβ bulan September akan berada pada level US$ 540 juta (surplus) atau lebih tinggi dibandingkan dengan data bulan sebelumnya yang sebesar US$ 430 juta," terangnya.
Penurunan nilai impor China merupakan sinyal dari perlambatan ekonomi yang terjadi di negara tersebut. Permintaan produk dari seluruh dunia diperkirakan akan menurun mengingat China merupakan salah satu pasar tujuan terbesar di dunia. Sementara, di sisi lain, ekspor China pun dilaporkan turun 1,1% YoY pada September 2015, sehingga semakin memperkuat persepsi terhadap penurunan performa perekonomian China, khususnya dari sektor industri.
Perekonomian China memegang peranan penting bagi perekonomian Asia, seperti Indonesia. Produk sumber daya alam Indonesia, seperti batu bara dan CPO, menjadikan China sebagai destinasi utama ekspornya. Porsi ekspor ke China tercatat 9,9% terhadap nilai seluruh ekspor Indonesia pada Agustus lalu.
"Dengan kondisi perekonomian China yang diperkirakan akan terus melambat maka diperkirakan akan mempengaruhi permintaan produk komoditas dari Indonesia," ujarnya.
Β
(mkl/drk)











































