Untuk menggambarkan betapa besarnya keuntungan yang bisa diperoleh dari pembelian saham di bursa, Tito menceritakan bahwa 14 tahun laluโ saham Apple, salah satu perusahaan penghasil gawai ternama di dunia, hanya bernilai US$ 1,2 alias cuma sekitar Rp 15.000 per lembar saham.
Uang sebesar US$ 400 atau Rp 5,4 juta bisa digunakan untuk membeli 329 lembar saham Apple pada 2001. Kapitalisasi pasar Apple terus menanjak setiap tahun sehingga nilai sahamnya kini sudah meroket sampai US$ 113,5 per lembar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, banyak orang yang tidak memahami besarnya potensi keuntungan yang dapat diperoleh dari pembelian saham di bursa. Tito mengatakan, uang sebesar US$ 400 pada tahun 2001 sama dengan harga iPod saat diluncurkan tahun 2001.
Tentu saja nyaris tidak ada yang memperkirakan bahwa uang sebesar itu bisa dipakai untuk membeli mobil mewah pada tahun 2015 atau 14 tahun setelahnya.
"Harga iPod tahun 2001 juga US$ 400. Mending beli iPod atau beli saham Apple?" tanyanya.
Sebagai contoh lain, Tito menuturkan bahwa saham Unilever di Indonesia naik lebih dari 1.000 kali lipat dalam 23 tahun. Ketika mulai Initial Public Offering (IPO) pada 1982, kapitalisasi pasar Unilever masih Rp 29,21 miliar. Saat itu Unilever melepas 9,2 juta lembar saham dengan harga IPO Rp 30 per lembar.
"Sekarang kapitalisasi pasar Unilever Rp 298,33 triliun per 18 September 2015. Harga sahamnya saat ini Rp 39.100 per lembar, sudah naik lebih dari 1.000 kali lipat," pungkasnya.
(ang/ang)











































