Proyek tersebut dikerjakan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), yang terdiri dari pihak Indonesia dan China. Dari pihak Indonesia, yang mewakili adalah PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).
PSBI ini terdiri dari empat perusahaan pelat merah, yaitu PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Kereta Api Indonesia Tbk (KAI), dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anak usaha WIKA, yaitu PT Wika Beton Tbk (WTON), memprediksi akan meraup pendapatan hingga Rp 7 triliun selama proyek itu berlangsung.
"Selain grup WIKA, emiten yang juga dapat sentimen positif dari proyek ini adalah PT Sumarecon Agung Tbk (SMRA)," kata riset Sucorinvest, Senin (19/10/2015).
Sebab, perusahaan properti tersebut punya beberapa proyek perumahan dan mal yang akan dimulai akhir 2015 sampai 2018. Lokasinya berada di Gedebage, satu lokasi dengan stasiun kereta cepat Jakarta-Bandung.
Selain dilalui oleh kereta cepat, lokasi proyek Summarecon itu juga bisa diakses melalui Tol Padaleunyi (Padalarang-Cileunyi). Summarecon punya tanah (land bank) hingga 331 hektar di Bandung.
Pada perdagangan hari ini, harga saham WTON turun tipis 5 poin (0,50%) ke level Rp 995 per lembar. Sementara saham WIKA naik 25 poin (0,85%) ke level Rp 2.980 per lembar.
Sedangkan saham SMRA menguat 85 poin (6,54%) ke level Rp 1.385 per lembar.
(ang/dnl)











































