Melalui revaluasi aset ini, tarif pajak penghasilan (PPh) bakal dipangkas. Tarif PPh dalam revaluasi aset normalnya dikenakan 10%, namun ada insentif potongan dalam paket kebijakan pemerintah jilid V.
Revaluasi aset hingga 31 Desember 2015, tarif PPh hanya dikenakan 3%. Melalui revaluasi aset ini, nilai aset perseroan akan lebih tinggi dan berpotensi mendongkrak laba perseroan, diperkirakan bisa di atas 5%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bisa mendongkrak di atas 5%. Harus tahun ini revaluasi aset, bulan depan malah," kata Direktur Keuangan GIAA I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra saat konferensi pers, di kantor Garuda Indonesia, Kebon Sirih, Jakarta, Jumat (23/10/2015).
Dia menjelaskan, revaluasi aset penting dilakukan untuk mendongkrak kinerja perseroan. Dengan nilai aset yang besar, bisa menarik minat investor terhadap perusahaan tersebut. Tentu ini akan berpengaruh terhadap kinerja perseroan ke depan.
"Kita sudah cukup punya kas karena selama ini BUMN-BUMN itu besar sekali, bahkan waktu saya di Pelindo III, itu perusahaan dari zaman Belanda tahun 1.900 belum direvaluasi, itu kan besar sekali tapi kan mereka perlu lihat dulu, uangnya ada nggak untuk bayar pajak," ucapnya.
Sementara bagi perseroan, Askhara menyebutkan, pihaknya punya cukup uang untuk melakukan revaluasi aset perseroan.
Saat ini, total cash flow dari operation perseroan (laba bersih) tercatat US$ 50 juta. Cash on hand sebesar US$ 360 juta.
Sementara total aset mencapai US$ 3,1 miliar yang terbagi dalam current asset sebesar US$ 843 juta, sisanya non current asset itu bisa bentuknya fixed asset, tangible asset, dan licence.
"Kalau total aset, kita kan besar asetnya karena dalam bentuk pesawat dan mesin. Diharapkan setelah revaluasi aset, laba akan naik 5%," sebut dia.
Saat ini, Askhara mengatakan, pihaknya sudah mempersiapkan segala persyaratan untuk revaluasi aset, dan tinggal mengajukan ke Direktorat Jenderal Pajak.
"Kita sudah punya nilai komersialnya, kita tinggal ajukan ke pajak, aset itu kan kalau tanah dan bangunan kan pasti naik, maka sekarang yang akan revaluasi itu tanah dan bangunan saja. Sebenarnya kita banyak asetnya pesawat, mesin, banyak tapi kan kita takut, karena dolar AS, ada risiko, sekarang tanah dan bangunan dulu," tandasnya.
(drk/ang)











































