"Total kerugian yang kita derita US$ 8 juta. Itu yang tidak jadi terbang, makanan, awak kabin, pilot yang sudah kita bayar, hotel, dan segala macam. Dari US$ 8 juta itu, US$ 6 juta itu dari yang nggak jadi terbang, terdiri dari ada yang refund dan reschedule, dari US$ 6 juta itu, US$ 3 juta refund, nah yang US$ 2 juta loss," jelas Direktur Keuangan GIAA I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra saat konferensi pers, di kantor Garuda Indonesia, Kebon Sirih, Jakarta, Jumat (23/10/2015).
Dia berharap, bencana alam yang terjadi di Indonesia segera berakhir sehingga maskapai penerbangan pelat merah itu bisa kembali menggenjot kinerjanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga akhir tahun ini, Askhara menyebutkan, maspakai BUMN itu menargetkan bisa meraup pendapatan hingga US$ 4 miliar.
Pendapatan usaha (total revenue) naik tipis dari US$ 2,831 miliar pada Januari-September 2015 menjadi US$ 2,845 miliar pada periode yang sama di tahun 2014.
"Sampai akhir tahun targetnya laba terus. Target revenue US$ 4 miliar. Beratnya karena depresiasi rupiah sampai 12%, tapi mau revenue rendah, kalau cost-nya rendah ya untung juga kayak sekarang, kita kan coba," imbuhnya.
(drk/ang)











































