Ekonom DBS Research Group, Gundy Cahyadi menilai ekspor Indonesia masih melambat meskipun dolar menguat. Alasannya, produk industri Indonesia sebanyak 70% masih mengandung komponen impor. Akibatnya, biaya produksi tetap saja tinggi.
"Jadi barang yang kita produksi itu, kandungan impornya sampai 70%. Karena dolar menguat, akhirnya daya beli impor turun," kata Gundy saat acara DBS Asian Insights Media Luncheon di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Selasa (27/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain manufaktur, sektor komoditas RI seperti kelapa sawit hingga batu bara masih terpukul. Selain harga komoditas turun, permintaan juga rendah.
Kondisi ini berbeda pada tahun 2008-2009. Saat permintaan turun, harga sawit dan batubara melonjak tinggi sehingga terjadi substitusi dan mampu menyelamatkan nilai ekspor Indonesia.
"Tahun 2008-2009, itu didorong harga komoditas yang tinggi. Kita ulang 2008-2009, nggak ada dukungan harga komoditas (harga rendah)," ujarnya.
Selain berdampak terhadap ekspor, pelemahan rupiah berdampak terhadap investasi jangka pendek seperti sektor pada pasar modal. Gejolak kurs membuat investasi asing tidak menguntungkan untuk saat ini.
"Sama di pasar saham kalau indeks saham profit 10% per tahun tapi rupiah melemah 15% per tahun maka bagi investor asing sama saja bohong. Nggapain masuk sekarang," tuturnya.
(feb/ang)











































