Investor pemula disarankan membagi investasinya ke dalam investasi jangka pendek, menengah dan panjang. Semakin lama jangka waktu yang diambil, lebih sesuai untuk investasi beresiko tinggi.
"Pemula itu banyak sekali. Satu kunci awal pemula yaitu finansial check-up (cek kesehatan keuangan). Kalau sudah oke, kita pecah jadi jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Kalau jangka pendek kita masuk ke produk keuangan yang resikonya rendah seperti produk perbankan dan deposito. Jangka pendek itu di bawah satu tahun," ungkap Ahli Perencana Keuangan, Aidil Akbar, ditemui usai Financial Clinic ‘Ngobrol Investasi Saham dan Reksa Dana" bersama detikFinance dan OJK di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (28/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangka menengah yaitu investasi untuk 1-5 tahun. Kita bisa masuk ke produk-produk perbankan yang relatif aman. Resiko lebih tinggi sedikit dan return lebih tinggi sedikit seperti reksa dana pendapatan tetap dan obligasi, ORI (Obligasi Ritel Indonesia) itu memberikan return sekitar 8-12% per tahun," jelas Aidil.
Lanjut lagi, kata Aidil, kalau Anda sudah berani investasi jangka panjang di atas lima tahun, bisa memilih memasuki pasar yang lebih agresif.
"Investasi jangka panjang di atas sesuai ini cocok untuk masuk ke pasar yang lebih agresif. Ada reksa dana saham, saham, reksa dana campuran, properti, atau kombinasi dari itu. Jadi investasi sangat disesuaikan dengan tujuan keuangan dan jangka waktu, baru kita sesuaikan dengan produk investasinya," lanjutnya.
Bagi Anda yang pemula, Aidil menyarankan, masuk dulu ke produk yang paling rendah risikonya yaitu tabungan deposito atau logam mulia. Baru bertahap masuk ke reksa dana pasar uang lalu ke reksa dana pendapatan tetap.
"Kalau sudah ngerti risikonya saya mau lebih agresif lagi, masuk ke campuran, lalu masuk ke reksa dana saham,” tambahnya.
Bisakah alokasi dana investasi kita pecah untuk sekaligus jangka pendek, menengah, dan panjang? Jawaban Aidil, sangat bisa.
"Pilihan investasi kan sangat tergantung dari profil risikonya. Kalau mau ambil risiko boleh saja dipecah. Misal sebulan punya uang Rp 500 ribu. Kalau berani ambil resiko bagi dua. Rp 250 ribu masuk ke saham, Rp 250 ribu lagi ke reksa dana campuran," ujarnya.
"Tapi kalau nggak berani ambil risiko boleh saja misalnya Rp 400.000 di pendapatan tetap sama pasar uang dan Rp 100.000 di saham. Tinggal seberapa kita yakin dan mau menanggung resiko. Kalau berani, ah nggak apa-apa uang saya hilang semua toh cuma Rp 500 ribu kalau pasar lagi turun boleh di saham, lalu 25% di reksa dana campuran," ucapnya.
(ang/ang)










































