Rugi Bakrie Plantation Bengkak 1.495% Jadi Rp 1,1 Triliun

Rugi Bakrie Plantation Bengkak 1.495% Jadi Rp 1,1 Triliun

Angga Aliya - detikFinance
Selasa, 03 Nov 2015 17:46 WIB
Rugi Bakrie Plantation Bengkak 1.495% Jadi Rp 1,1 Triliun
Jakarta - PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) mencatat rugi Rp 1,16 triliun di kuartal III-2015. Kerugian ini bengkak 1.495% dibandingkan rugi periode yang sama tahun lalu Rp 73 miliar.

Kerugian ini bertambah gara-gara omzet yang turun ditambah dengan rugi selisih kurs. Pendapatan perusahaan sawit Grup Bakrie ini tercatat turun 21%, menjadi Rp 1,6 triliun di akhir September.

Penjualan yang ditopang dari komoditas sawit dengan nilai Rp 1,2 triliun dan komoditas karet Rp 0,4 triliun. Kinerja ini didapat berkat serangkaian program revitalisasi perkebunan, dan kemampuan menjaga produksi kebun inti sawit dan karet.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Produksi dua komoditas itu tetap stabil di tengah pelemahan harga komoditas di pasar global, pungutan CPO Fund US$ 50 per ton, dan El-Nino.

Emiten berkode UNSP itu mengalai kerugian kurs Rp 1,4 triliun dalam sembilan bulan pertama 2015, bandingkan dengan sebelumnya hanya rugi Rp 21,8 miliar.

Menurut Direktur Investor Relations UNSP, Andi W. Setianto, perseroan mengikuti protokol RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) and ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) yang menjunjung tinggi prinsip ramah lingkungan dan keberlanjutan.

Perseroan juga mempunyai kebijakan 'zero-burning' (tanpa membakar) dalam melakukan kegiatan perkebunan khususnya aktivitas land clearing.

"Sehingga tidak ada kebakaran lahan yang berasal dari kebun Bakrie," katanya dalam siaran pers, Selasa (3/11/2015).

Menurut Andi, pada tahun 2014 lalu, nilai penjualan UNSP masih tumbuh 27%. Jika dilihat, harga komoditas sawit utama yaitu CPO (Crude Palm Oil) masih dalam tren penurunan harga yang berlangsung sejak tahun 2011 hingga ke level terendah bulanan US$ 480 per ton FOB Malaysia di kuartal III-2015.

Tetapi berkat kerja keras, kata Andi, Perseroan masih mampu membukukan nilai penjualan sebesar Rp 1,6 triliun dan laba kotor Rp 417 miliar di kuartal III-2015.

"Kami bekerja keras mengatasi kondisi air di kebun akibat kemarau panjang tahun lalu dengan sebaik-baiknya. Sesuai siklus tahunan, peningkatan produksi sawit mulai terlihat di kuartal III-2015 dan diperkirakan mencapai puncaknya di kuartal terakhir. Optimalisasi produktivitas pabrik, juga dilakukan dengan pembelian sawit dan karet dari petani yang tidak memiliki pabrik sekaligus membantu kesejahteraan mereka," ujarnya.

Lebih lanjut, Andi menyebut, kondisi El-Nino di 2015 ini berpotensi menyebabkan berkurangnya pasokan sawit untuk 2016, dan kondisi itu diperkirakan akan menjadi katalis perbaikan harga CPO di Semester I-2016.

Melalui unit usaha kerja sama patungan PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia (ASD-BSP), Perseroan juga telah melakukan inovasi melalui pengembangan bibit unggul yang menghasilkan produksi buah sawit lebih banyak dengan luasan lahan kebun yang sama.

Saat ini dengan luas pertanaman sawit nasional kurang lebih 10 juta hektar, total produksi hanya sekitar 30 juta ton CPO per tahun, dengan bibit unggul ASD-BSP maka potensi produktivitas bisa meningkat menjadi 80 juta ton CPO per tahun dengan produktivitas 35 ton buah sawit per hektar dan ekstraksi CPO nya 23% sesuai hasil lapangan bibit unggul ASD-BSP yang sudah disertifikasi.

Dengan bibit unggul, luas lahan kebun tidak perlu bertambah menghasilkan produksi CPO berlipat ganda meningkatkan lagi produksi biodiesel untuk ketahanan energi nasional.

Perseroan melihat bibit unggul dan pendampingan petani pemilik lahan pertanaman sawit nasional kurang lebih 4 juta hektar adalah kunci produktivitas berkelanjutan sawit sebagai komoditas strategis nasional.

Direktur Utama UNSP, M. Iqbal Zainuddin menambahkan, strategi peningkatan produktivitas berkelanjutan yang sedang dilakukan akan lebih banyak lagi dirasakan dampak positifnya dalam jangka menengah dan panjang.

"Melanjuti fokus peningkatan produktivitas kebun dan pabrik, kami akan lanjutkan dengan langkah konkrit peningkatan produktivitas aset lainnya dan perbaikan struktur permodalan. Kami menjadi semakin optimis, dalam jangka menengah dan panjang nanti perusahaan ini akan kembali bangkit menemukan momentum yang terbaik menjadi salah satu perusahaan perkebunan yang memiliki fundamental bisnis yang kuat," jelasnya.

(ang/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads