Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin anjlok 48 poin gara-gara muncul aksi jual jelang penutupan perdagangan. Padahal seharian ini IHSG bergerak datar-datar saja.
Mengakhiri perdagangan, Selasa (10/11/2015), IHSG ditutup anjlok 48,454 poin (1,08%) ke level 4.451,053. Sementara Indeks LQ45 ditutup 13,287 poin (1,73%) ke level 754,703.
Wall Street bergerak datar akibat aksi tunggu investor terkait rencana naiknya suku bunga The Federal Reserve (The Fed) bulan depan. Koreksi saham Apple bisa ditutup oleh penguatan saham-saham konsumer.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hari ini IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang yang datar tapi berpotensi rebound. Posisi IHSG yang sudah jenuh jual bisa dimanfaatkan untuk aksi beli oleh investor.
Pergerakan bursa-bursa di Asia pagi hari ini:
- Indeks Nikkei 225 turun 33,59 poin (0,17%) ke level 19.637,67.
- Indeks Straits Times menguat 12,23 poin (0,41%) ke level 3.009,95.
Rekomendasi untuk perdagangan saham hari ini:
OSO Securities
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih belum memiliki power untuk hijrah dari zona merah. Pada perdagangan Selasa kemarin (10/11), IHSG melemah sebesar 1.08% atau 48.45 poin ke level 4,451.05. Tercatat sebanyak 169 saham bergerak turun, 75 saham flat dan 103 saham rebound. Positifnya data ekonomi dari domestik yang rilis kemarin yakni Business Confidence kuartal III yang sebelumnya 105.46 menjadi 106.4, belum mampu mengangkat IHSG keluar dari teritori negatif. Selain itu, investor juga terlihat belum merespon baik data Retail Sales Indonesia bulan September yang naik menjadi 7.2% (YoY). Dari sepuluh indeks sektoral, hanya dua yang mampu mencetak penguatan. Adapun sektor-sektor yang naik adalah sektor aneka industri dan properti yang masing-masing mencatatkan kenaikan sebesar 0.83% dan 0.65%. Investor asing masih membukukan net sell Rp 504.32 miliar.
Pasar saham Asia ditutup mixed pada Selasa kemarin. Indeks Nikkei menguat sebesar 0.15% ke level 19,671.26 setelah dibelinya futures pada akhir perdagangan. Sementara indeks Shanghai melemah yakni turun sebesar 0.18% ke level 3,640.49. Pelemahan indeks Shanghai terjadi di tengah rilisnya data inflasi China bulan Oktober yang turun menjadi -0.3%. Sedangkan untuk data PPI China secara year on year bulan Oktober masih stay di -5.9%. Angka yang mengecewakan pada data China sangat cepat direspon oleh para pelaku pasar, sehingga indeks lebih sensitive dan rentan.
Sementara dari bursa Wall Street mayoritas indeks ditutup menguat dimana DJIA menguat 0.16% ke level 17,758.21 dan S&P 500 naik 0.15% ke level 2,081.72. Hanya indeks Nasdaq saja yang mengalami penurunan yakni sebesar 0.24% ke level 5,083.24. Penguatan yang terjadi pada dua indeks utama bursa Wall Street seiring dengan rilisnya beberapa data ekonomi AS yang mayoritas juga mengalami perbaikan. Data eksport dan import AS menunjukkan kenaikan meski masih di bawah ekspektasi secara month of month. Data eksport prices naik dari -7.4(yoy) menjadi -6.7%(yoy). Sedangkan import prices menjadi -10.5%(yoy).
Hal yang sama juga terjadi pada mayoritas indeks utama di bursa Eropa. Indeks CAC 40 mengalami penguatan tipis sebesar 0.02% dan DX mencatatkan kenaikan sebesar 0.16%. Sementara hanya indeks FTSE 100 yang melemah sebesar 0.32%.
Kami memperkirakan IHSG berpeluang rebound setelah mengalami pelemahan selama dua hari berturut-turut. Secara teknikal, mayoritas indicator masih bergerak menurun dimana indicator MFI, RSI dan Stochastic Oscillator sudah berada di bawah batas area netral. Kami prediksikan IHSG akan bergerak di kisaran 4410-4498.
First Asia Capital
Tekanan jual di akhir sesi terutama oleh pemodal asing kembali membuat IHSG tutup di teritori negatif, koreksi 48,454 poin (1,1%) di 4451,053. Nila transaksi di Pasar Reguler kemarin meningkat mencapai Rp6,08 triliun dan pemodal asing membukukan penjualan bersih hingga Rp504,32 miliar. Koreksi indeks kemarin terutama dipicu aksi jual asing atas sejumlah saham unggulan seperti saham emiten Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan saham Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).
Sedangkan aksi beli selektif melanda saham sektor property dan jasa konstruksi. Sentimen negatif pasar terutama dipicu meningkatnya resiko pasar emerging market setelah data ekonomi China seperti inflasi Oktober yang keluar kemarin hanya naik 1,3% (yoy) di bawah ekspektasi 1,5%. Sedangkan indeks harga produsen (PPI) China Oktober turun 5,9%, merupakan penurunan selama 44 bulan terakhir. Selain faktor China, resiko capital outflow juga dipicu rencana The Fed menaikkan tingkat bunganya akhir tahun ini. Indeks The MSCI Emerging Markets kemarin koreksi 1,2%. Sementara di Wall Street pasar bergerak bervariasi namun berhasil tutup di teritori positif. Indeks DJIA dan S&P di Wall Street tadi malam masing-masing menguat 0,16% dan 0,15% tutup di 17758,21 dan 2081,71. Indeks Nasdaq koreksi 0,24% di 5083,24 terutama dipicu koreksi saham Apple hingga 3%.
Pada perdagangan hari ini IHSG diperkirakan akan bergerak bervariasi dalam rentang terbatas namun berpeluang rebound. IHSG diperkirakan bergerak dengan kisaran 4420 hingga 4500. Pergerakan rupiah atas dolar AS yang relatif stabil di kisaran Rp13600 turut menopang sentimen positif pasar.Β
(ang/ang)











































