"Kemarin sempat 7% sekarang tinggal 1-2%. Bisa dicek di website kita," kata Direktur Keuangan Asabri Heri Setianto kepada detikFinance, Kamis (12/11/2015).
Namun jika dilihat dari data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Asabri tercatat masih pegang 6,99% saham Sekawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, sebelum berinvestasi, Asabri selalu melakukan analisis terlebih dahulu terhadap perusahaannya. Contohnya, menganalisi nilai buku, kapitalisasi pasar, profil perusahaan, manajemennya, dan lain-lain.
Sehingga, kata Heri, adanya isu 'goreng' dan gadai saham ini lebih ke masalah transaksi saham di pasar modal dan bukan fundamental perusahaan. Sebab, kabarnya ada salah satu pemegang saham yang sengaja 'menggoreng' harga saham Sekawan dan menggadainya setelah harganya tinggi.
"Bukan. Kami pastikan bukan (pelaku goreng saham). Karena kita nggak pernah repo (repurchase agreement/gadai). Kita tidak punya repo. Kita selalu jual beli langsung di pasar reguler. Kita memang nggak main di repo," jelasnya.
(ang/mok)











































