Menurut Direktur Keuangan Asabri Heri Setianto, perusahaan pelat merah itu mulai mengoleksi saham Sekawan sejak 2013 lalu. Saat itu, harga saham berkode SIAP itu ada di kisaran Rp 190-an dan stagnan sampai Juli 2014 tiba-tiba melonjak tinggi.
Saat itu, Sekawan menggelar rights issue dan diambil oleh pemegang saham baru secara backdoor listing, yaitu Fundamental Resources, perusahaan asal Singapura milik Rennier Latief.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini yang diduga sebagai aksi 'goreng' saham karena berdasarkan kabar di pasar, perusahaan tambang yang dibeli Sekawan itu hanya pegang izin saja tanpa punya tambang fisik.
Akibatnya, sahamnya pun langsung masuk tren melemah dan jatuh hingga ke kisaran Rp 100-an per lembar dalam waktu cukup singkat. Tentunya ini membuat banyak pemegang saham menderita rugi investasi.
"Nggak. Kita nggak rugi karena kita sudah keluar di saat harga tinggi. Jadi nggak ada kerugian," kata Direktur Keuangan Asabri Heri Setianto kepada detikFinance, Kamis (12/11/2015).
"Saya lupa (beli di harga berapa), yang pasti nggak rugi, untung kita. Jadi, kita kan selalu pantau naik turunnya, saat untung kita tarik, ya gitu-gitu," jelasnya.
Ia mengatakan, saat ini investasi terbesar Asabri berupa reksa dana yaitu setara 40-45% dari total portofolio. Sementara obligasi 30%, sisanya deposito dan saham.
"Nah, yang saham itu core nya 90% saham-saham yang growth-nya bagus. Saham-saham blue chip. Kita juga batasi risiko, kita lihat nilai buku perusahaan yang kita investasi, harus lebih tinggi dari kapitalisasinya. Kita juga harus mengenal betul profil perusahaan, manajemennya, direksinya. Kita juga mencari saham-saham yang non blue chip tapi potensinya bagus tapi ya tetap harus hati-hati," ujarnya.
(ang/hen)











































