Dari 50 emiten terbaik, hanya ada 2 emiten dari Indonesia yaitu PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk dan PT Bank Danamon Tbk. Hal itu berbanding terbalik dengam negara-negara tetangga Indonesia di ASEAN seperti Thailand ada 8 emiten, Filipina ada 11 emiten, Singapura ada 8 emiten, dan Malaysia ada 6 emiten.
"Mungkin bagi emiten kita, mereka sudah merasa sudah baik dalam implementasi GCG. Tapi sayangnya ketika dibandingkan ke negara ASEAN lainnya, masih dianggap belum comply dengan GCG ASEAN," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Nurhaida, di hotel Kempinski, Jakarta, Senin (16/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun depan bisa ada minimal 10-15 emiten yang terbaik dalam GCG yang comply ASEAN. Apalagi OJK juga terus melakukan coaching kepada banyak emiten agar mereka tahu apa-apa poin di ASEAN yang dinilai tinggi," jelasnya.
"Tapi kadang-kadang penerapan GCG ini masih ada yang menganggap sebagai beban. Sehingga hanya mengikuti sesuai aturan. Padahal untuk longterm itu jadi investasi dan perusahaan akan sustain," ujarnya.
Meskipun demikian, Nurhaida juga mengkritisi proses penilaian GCG ASEAN ini. Menurutnya, dalam keterbukaan, banyak poin yang tak dimasukan dalam penilaian. Yakni keterbukaan soal majority shareholder ketika ada masalah.
"Tapi di negara ASEAN lain tidak ada. Ini justru melindungi investor. Mestinya kita bisa dorong keterbukaan seperti itu, jangan hanya mengekor negara lain," pungkasnya.
(hns/hns)











































