Menutup perdagangan awal pekan, Senin (23/11/2015), IHSG turun 20,268 poin (0,44%) ke level 4.541,066. Sementara Indeks LQ45 melemah 6,900 poin (0,88%) ke level 780,548.
Wall Street melemah tipis di awal pekan. Aksi korporasi besar di sektor kesehatan tidak berhasil membuat investor tergerak untuk beli saham.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hari ini IHSG diperkirakan akan konsolidasi dengan kecenderungan melemah. Pasar saham global dan regional memberi sentimen negatif.
Pergerakan bursa-bursa di Asia pagi hari ini:
- Indeks Nikkei 225 menipis 12,83 poin (0,06%) ke level 19.866,98.
- Indeks Straits Times naik tipis 0,58 poin (0,02%) ke level 2.904,07.
Rekomendasi untuk perdagangan saham hari ini:
OSO Securities
Awal pekan ini, IHSG tidak dapat melanjutkan penguatan seperti pada akhir pekan sebelumnya. Kemarin IHSG ditutup melemah dengan turun 0.44% ke level 4,541.07. Aksi profit taking nampaknya mampu mendorong harga saham terjatuh, jika diperhatikan secara sektoral hampir mayoritas indeks bergerak terkoreksi, hanya sektor Consumer Goods dan Finance yang mampu bertahan, sementara sisanya terkoreksi. Koreksi terdalam dipimpin oleh sektor basic industry dan mining yang masing-masing turun 1.15% dan 0.92%. Masih suramnya harga komoditas, membuat sektor mining dijauhi pelaku pasar. Selain itu, penundaan paket kebijakan ekonomi VII, seiring dengan masih belum sempurnanya implementasi dari enam paket kebijakan sebelumnya, ikut menjadi keresahan pelaku pasar. Pelaku pasar asing mencatatkan net sell seniai 26.67 miliar.
Sementara itu, dari bursa Asia ditutup bergerak variatif dengan kecenderungan melemah. Pelemahan terdalam dirasakan oleh bursa China, dimana Shanghai dan Hangseng masing-masing terkoreksi 0.56% dan 0.39%. Aktivitas sektor manufactur China yang melambat memicu kekhawatiran pelaku pasar. Selain itu, data-data perekonomian AS juga terus menjadi sorotan pelaku pasar, sebagai antisipasi atas kenaikan suku bunga The Fed pada akhir tahun ini.
Bursa Wall Street bergerak bearish pada perdagangan semalam. Indeks Dowjones terkoreksi 0.17% ke level 17,792.68, indeks S&P 500 turun 0.12% ke level 2,086.59 dan Nasdaq melemah tipis 0.05% ke level 5,102.48. Pernyataan Janet Yellen pada hari senin kemarin yang menyatakan untuk lebih berhati-hati dalam menaikkan suku bunga AS dan dilakukan secara bertahap atau tidak agresif supaya tidak melemahkan ekspansi ekonomi AS menjadi sorotan pelaku pasar. Selain itu rilisnya beberapa data ekonomi AS yang turun dari periode sebelumnya, menjadi sorotan pelaku pasar, dimana markit manufacturing PMI AS bulan Nov hanya 52.6, atau lebih tendah dari periode sebelumnya 54.1, sementara data penjualan rumah bulan Oktober juga lebih rendah dari periode sebelumnya yang hanya 5.55M menjadi 5.36M.
Sementara itu, bursa Eropa juga ikut mengalami penurunan. Dimana indeks FTSE 100 turun 0.46% ke level 6,305.49, indeks CAC 40 melemah 0.44% ke level 4,889.12 dan indeks DAX terkoreksi 0.25% ke level 11,092.31. Penurunan bursa Eropa tertekan oleh sektor komoditas yang kian melemah, selain itu saham-saham yang berada disektor pertambangan juga ikut melemah seiring dengan rencana The Fed yang akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini.
Kami perkirakan hari ini IHSG akan bergerak menguat terbatas, seiring dengan pelemahan yang mayoritas terjadi pada indeks global. Secara teknikal indikator stochastic oscilator bulllish, histogram MACD positif dan bergerak menguat, MFI flat dan RSI masih menguat. Kami perkirakan IHSG akan bergerak dikisaran 4489- 4595.
First Asia Capital
IHSG pada perdagangan awal pekan kemarin gagal melanjutkan tren penguatannya. Penguatan IHSG tertahan di resisten 4590 dan aksi ambil untung di akhir sesi membuat IHSG akhirnya tutup koreksi 20,268 poin (0,44%) di 4541,066. Perdagangan berlangsung kurang bergairah dengan nilai transaksi di Pasar Reguler hanya mencapai Rp2,86 triliun dan asing mencatatkan penjualan bersih Rp26,7 miliar. Koreksi IHSG kemarin lebih banyak dipicu sentimen negatif kawasan Asia setelah pasar mencermati pelemahan kembali mata uang emerging market terhadap dolar AS yang berdampak pada pelemahan rupiah atas dolar AS 0,73% di Rp13722.
Salah satu pemicu pelemahan mata uang emerging market yakni tekanan di harga sejumlah komoditas seperti minyak mentah dan logam. Sementara Wall Street tadi malam di tengah transaksi yang tipis, ditutup melemah setelah pekan kemarin menguat hingga 3% lebih. Indeks DJIA dan S&P masing-masing koreksi 0,17% dan 0,12% tutup di 17792,68 dan 2086,59. Harga minyak mentah tutup di USD41,88/barel melemah tipis 0,05%. Pelaku pasar di Wall Street lebih banyak wait and see menjelang libur Thanksgving Day Kamis ini dan menanti data awal pertumbuhan ekonomi AS kuartal tiga. Pasar juga digerakkan dengan sejumlah data ekonomi yang keluar seperti indeks flash manufacturing PMI November yang turun ke 52,6 di bawah perkiraan 54,0 dan indeks bulan sebelumnya 54,1.
Kondisi pasar saham global yang tengah konsolidasi dan meningkatnya kekhawatiran kemerosotan harga sejumlah komoditas, akan mempengaruhi jalannya perdagangan hari ini. IHSG cenderung bergerak di teritori negatif dengan nilai perdagangan yang tipis. IHSG diperkirakan bergerak dengan support di 4525 dan resisten di 4590 cenderung melemah.
(ang/ang)











































