Alasannya, IWBMC terkendala izin. Sebagai perusahaan tambang yang berorientasi ekspor, IWBMC belum mengantongi izin sebagai Eksportir Terdaftar (ET) sehingga belum bisa mengapalkan batu bara ke luar negeri.
"Kita kegiatan tambang setop sementara karena memang alasan izin," Kata Corporate Secretary Sekawan Herry Priambodo kepada detikFinance di kantornya, Menara Global Lantai 15, Jakarta Selatan, Jumat (27/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah itu, pihaknya sudah bisa ekspor ke Vietnam. Batu bara akan dijual untuk memasok PLTU di negara tetangga Indonesia itu.
Meski demikian, Sekawan menghadapi masalah lain yakni kesulitan pendanaan. Aliran modal dari pemegang saham pengendali tersendat sehingga Sekawan terpaksa menghentikan sementara aktivitas eksplorasi. Aliaran dana sangat diperlukan mendukung operasional perusahaan.
"Di sisi lain, dukungan dana dari pemegang saham pengendali terkendala," ujarnya.
Bila izin ET terbit dan aliran dana kembali lancar, Sekawan akan melanjutkan kembali eksplorasi tambang batu bara di Melak, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Anak usaha SIAP ini memiliki area IUP batubara 5.000 hektar dengan cadangan 288,10 juta Metrix Ton. Sebelum setop operasi, IWBMC telah melakukan produksi batu bara dalam jumlah terbatas.
"Pertama yang area P2 Tondoh yang potensi batu bara 3 juta MT. Kita hentikan, padahal baru produksi 3-4%," jelasnya.
Selain tujuan ekspor, batu bara milik Sekawan akan diperuntukan mendukung program pembangkit listrik mulut tambang. Bila kondisi perusahaan kembali normal, SIAP berencana membangun PLTU 2X15 Mega Watt (MW) di Melak. Total investasi mencapai US$ 60 juta.
"Kita rencana bangun PLTU di Melak 2X15 MW. Itu manfaatkan batu bara. Di sana sudah bebaskan lahan dan daerah itu kekurangan listrik. Rencana sesuai time schedule, PLTU mulai commissioning awal 2016 dan selesai pertengahan 2017," tambahnya.
(feb/ang)











































