"Wah itu bagus banget. Saya ke Timika lalu ke Tembaga Pura, jadi pertama naik dulu ke atas 4.825 meter di atas permukaan laut. Saya kasih lihat nih fotonya, wuiihh ini 4.825 meter di atas permukaan laut," ucap Tito sambil memamerkan foto-fotonya saat di tambang Grasberg, kepada para wartawan, di Gedung BEI, jakarta, Rabu (2/12/2015).
Tito pun menggambarkan situasi saat dia berkesempatan memasuki area bawah tanah yang berada 2.000 meter di bawah permukaan tanah dengan panjang terowongan mencapai 6.000 km.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, di balik kunjungannya tersebut, misi utama Tito adalah bernegosiasi agar Freeport Indonesia mau melepas divestasi sahamnya ke pasar modal melalui Initial Public Offering (IPO) atau penawaran saham perdana.
"Saya disana ketemu dengan Direksi dan Gubernur sana juga ketemu kelompok pegawainya, ngobrol, menurut saya sih pantas rakyat Papua punya kepemilikan melalui lembaga dana pensiun atau asuransi," katanya.
Tito menambahkan, pada dasarnya IPO adalah jalan terbaik agar pemerataan pendapatan melalui kepemilikan bisa dilakukan dan agar skema divestasi saham lebih transparan. BEI sebagai otoritas bursa saham juga harus pandai menarik para investor agar mau menanamkan sahamnya di BEI.
"Bursa itu harus punya jiwa salesmanship, kita kejar terus. Tapi kan kita tahu sedang ada persoalan seperti yang ada di tv-tv itu, yang lagi ramai itu, ya kita lepaskan dulu deh, karena ada kemungkinan ada keputusan politik yang bursa tidak bisa ikut campur, mungkin ada keputusan politik yang membuat mereka tidak bisa IPO ya mungkin saja, tapi sementara ini, kalau saya lihat IPO cara paling bagus, itu yang coba saya buktikan kemarin, saya kan harus jago dagang," pungkasnya.
(drk/hns)











































