Direktur Pengembangan BEI, Nicky Hogan mengatakan, 'Yuk Nabung Saham' merupakan kampanye guna menarik minta masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal, baik lewat saham maupun reksa dana.
"Nabung saham itu kampanye saja. Bukan menabung kayak cicil beli (saham). Kampanye agar investor tahu cara memulai investasi, banyak orang ingin investasi di bursa tapi tidak tahu memulainya, kita mulai seluas-luasnya dengan program ini," kata Nicky kepada detikFinance ditemui di Gedung BEI, SCBD, Jakarta, Rabu (16/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konsep menabung dalam program 'Yuk Nabung Saham' mengacu pada paradigma masyarakat Indonesia yang masih berpegang pada budaya menabung (saving society).
Kampanye yang dibuat dengan bahasa sederhana dan menarik, namun menimbulkan keingintahuan masyarakat diharapkan dapat menarik minat masyarakat untuk mulai berinvestasi, dari budaya menabung menjadi berinvestasi.
"Tidak ada mekanisme khusus, ini hanya kampanye saja. Kalau kemudian ada perusahaan sekuritas yang mengadakan program khusus seperti auto debet setiap bulan bagi investor pemula monggo, tujuannya agar mereka disiplin. Kita nggak atur itu, itu kebijakan masing-masing sekuritas," jelas Nikki.
Dengan bahasa yang mudah dicerna tersebut, lanjutnya, rupanya efektif menjaring nasabah baru yang sebelum sangat awam tentang informasi pasar modal.
"Masyarakat kita akrabnya dengan nabung, ya nyicil bulanan. Sekarang bagaimana agar nabung bulanan ini bisa sambil berinvestasi. Nyicil ini kan kaitannya dengan disiplin masyarakat, jadi semacam ini loh tanggal kamu sudah waktunya beli saham bulan ini," katanya.
Sebagai informasi, per November 2015, BEI mencatat, jumlah investor aktif di Indonesia per tahun hanya sebesar 37% atau 149.817 SID (single investor identification) dari total jumlah investor pasar modal di Indonesia yang saat ini berjumlah 427.068 SID.
Data di OJK per tahun 2013 menunjukkan, tingkat pemahaman (literasi) masyarakat Indonesia terhadap pasar modal dan tingkat utilitas produk pasar modal masih rendah, jika dibandingkan dengan 5 industri jasa keuangan lainnya di Indonesia.
(ang/ang)











































