Untuk mendukung pengembangan sistem tersebut, KSEI melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama pengembangan sistem tersebut pada Juni 2015 dengan Korea Securities Depository (KSD), sebagai lembaga Kustodian di Korea Selatan yang telah mengimplementasikan sistem serupa di pasar modalnya.
Rencananya, S-Invest akan diterapkan di Indonesia pada Agustus 2016. Direktur Utama KSEI Margeret M Tang menjelaskan, nantinya dengan menerapkan sistem S-Invest, setiap investor reksa dana diwajibkan memiliki Single Investor Identification (SID) seperti kepemilikan SID di saham. Dengan sistem ini, semua bisa terintegrasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Margeret mengatakan, terobosan pada perluasan sinergi fasilitas AKSes dengan perbankan ini diwujudkan KSEI pada tahun depan melalui kerjasama dengan Bank Permata dan Trimegah Securities untuk penyediaan pilot project fasilitas instruksi penarikan dana nasabah melalui ATM.
Ini untuk memudahkan investor untuk menarik dana yang ada di Rekening Dana Nasabah (RDN), yang instruksinya selama ini disampaikan melalui sarana lain seperti mesin fax.
Kemudahan untuk melakukan transaksi pasar modal didukung KSEI dengan menambah jumlah bank administrator RDN menjadi 9 bank, dari sebelumnya 6 bank, dengan 2 di antaranya adalah bank syariah.
Hal tersebut memudahkan investor dalam melakukan investasi di pasar modal karena investor dapat memilih bank yang terdekat dan dinilai dapat memberikan layanan jasa terbaik.
Mulai periode ini, seluruh bank administrator RDN yang bekerjasama dengan KSEI, wajib mengembangkan sinergi fasilitas AKSes dengan jaringan yang dimiliki masing-masing bank.
Total jaringan perbankan yang dapat dimanfaatkan diperkirakan sekitar 17.000 kantor cabang dan 88.000 ATM. Hingga 22 Desember 2015, jumlah investor mencapai 432.571 orang, naik 20% dari tahun sebelumnya.
Total aset yang tercatat di C-BEST per akhir November 2015, mengalami penurunan sekitar 9% dari tahun sebelumnya, dari Rp 3.152 triliun menjadi Rp 2.879 triliun di tahun 2014.
Jumlah efek yang terdaftar di KSEI per akhir November 2015 meningkat dari tahun sebelumnya dari 1.240 efek menjadi 1.310 efek.
(drk/ang)











































