Pendanaan tersebut diperoleh melalui mekanisme penerbitan saham baru (rights issue) atau Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).
Perseroan menetapkan harga rights issue di Rp 200/saham.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Abi menyebutkan, saat ini pihaknya tengah menunggu restu dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atas aksi korporasinya tersebut. Ditargetkan, rencana itu bisa terealisasi di kuartal I atau II tahun ini.
"Kita akan eksekusi bulan depan kemungkinan, setelah dapat pernyataan efektif dari OJK, perkiraan di kuartal I atau II," katanya.
Sayangnya, Abi belum mau memaparkan secara rinci rencana penggunaan dana rights issue tersebut. Namun sebelumnya, BTEL memang berencana melunasi utangnya sebesar Rp 7 triliun dengan cara mengonversi jadi saham.
Utang yang akan dikonversi tersebut merupakan bagian dari total utang yang nilainya lebih dari Rp 10 triliun. Sebagian besar utang dikonversi jadi saham, sementara sisanya dibayar pakai cara cicil.
Sebagian ada utang ke pemerintah, sekitar Rp 1,2 triliun, berbentuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), yakni berupa pungutan yang seharusnya dibayarkan perusahaan telekomunikasi tersebut kepada Kominfo.
"(Piutang pemerintah) memang tidak dikonversi. Dibayar. Kita bayar secara bertahap," ujarnya.
(drk/dnl)











































