RI Sulit Tarik Investor Kalau Peringkat Kemudahan Berusaha Masih Rendah

RI Sulit Tarik Investor Kalau Peringkat Kemudahan Berusaha Masih Rendah

Maikel Jefriando - detikFinance
Kamis, 21 Jan 2016 12:04 WIB
RI Sulit Tarik Investor Kalau Peringkat Kemudahan Berusaha Masih Rendah
Foto: Maikel/detikFinance
Jakarta - Indonesia menempati peringkat ke 109 dalam indeks ease of doing business atau kemudahan berusaha. Memang ada sedikit peningkatan dari tahun sebelumnya, namun Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan Singapura, Malaysia, bahkan Thailand.

‎Andry Asmoro, Head of Macroeconomic and Financial Market Research Mandiri, menyatakan indeks tersebut menjadi acuan bagi para investor.

Indonesia masih akan sulit bersaing dengan negara-negara kawasan untuk memperebutkan investor‎ dengan kondisi sekarang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

‎"Kan sekarang kita bicara ASEAN Economic Community (AEC) itu kan kita saling rebutan tempat untuk basis investasi," ujarnya di kantor pusat Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (21/1/2016).

Dari data yang dirilis Bank Dunia, Thailand berada di urutan 49. Di depannya ada Malaysia dengan urutan ke 14, sedangkan Singapura berada pada urutan pertama. Ini menandakan ketertinggalan Indonesia masih cukup jauh.

Andry menilai paling tidak posisi Indonesia harus‎ berada di sekitar negara-negara tersebut. Sangat disayangkan ketika Indonesia dengan berbagai potensi ekonomi yang besar, harus kehilangan peluang menarik investasi.

Investor memiliki optimisme yang tinggi terhadap pemerintah‎an Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan target-target yang ditetapkan. Pemerintah hanya perlu merealisasikan, sehingga optimisme tersebut dapat terus terjaga.

"Pak Jokowi kan sudah jelas kan targetnya‎ bahwa Indonesia harus memangkas paling tidak selevel sama kawasannya, itu adalah ASEAN. Ya realisasikan," tegasnya.

Kebutuhan Indonesia akan investasi memang masih cukup besar. Baik dari sisi infrastruktur hingga industri manufaktur. Hal tersebut, menurut Andry yang mampu meningkatkan perekonomian Indonesia‎.

"Kan memang selam target itu di bawah ASEAN, daya saing masih tantangan manufaktur Indonesia,"‎ terang Andry.

(mkl/drk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads