Demikian laporan dari Institute of International Finance, yang dilansir dari CNN, Jumat (22/1/2016).
Jumlah dana yang keluar dari China naik tinggi pada kuartal terakhir di 2015. Ini karena investor asing mengkhawatirkan soal pelemahan ekonomi dan penurunan pasar saham di negari tirai bambu ini. Apalagi perusahaan-perusahaan di China juga mulai kesulitan untuk membayar utang luar negerinya karena pelemahan nilai tukar yuan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam laporan tersebut, ada dana US$ 200 miliar yang keluar dari China sepanjang Agustus 2015. Akibat langkah bank sentral China, yaitu People's Bank of China, yang secara mengejutkan melakukan devaluasi atau pelemahan nilai tukar yuan.
Seperti diketahui, China membatasi jumlah uang yang bisa dibawa individu ke luar negeri, yaitu US$ 50.000 per tahun. Kebijakan ini justru memicu banyaknya dana yang dibawa ke luar. Tak hanya itu, pemerintah China juga membatasi jumlah uang yang bisa ditarik warganya dari ATM di luar negeri.
Arus dana yang keluar selama tahun lalu ikut menekan nilai yuan, dan membuat bank sentral China harus terus menyuntikkan dana guna menstabilkan nilai yuan. Ratusan miliar dolar sudah disuntikan oleh China untuk mengintervensi pasar uang, agar nilai yuan stabil.
(dnl/dnl)











































