Sehatnya 'Blue Chips', Renyahnya 'Gorengan'

Ellen May - detikFinance
Jumat, 22 Jan 2016 10:26 WIB
Jakarta - Banyak yang bertanya baik dari twitter @pakarsaham atau dari WA, saham-saham apa saja ya yang sebaiknya kita pilih? Apakah sebaiknya saham blue chips? Pertanyaan sebaliknya, apakah kita harus menjauhi saham-saham “gorengan”? Sebenarnya apa yang dimaksud saham blue chips dan gorengan?

Saham blue chips adalah saham dari perusahaan yang berkapitalisasi besar, yang seringkali menjadi penggerak indeks karena bobotnya besar. Kapitalisasi artinya jumlah saham yang beredar dikalikan dengan harga saham.

Jadi, perusahaan yang kapitalisasinya besar biasanya dikarenakan faktor jumlah saham yang beredar banyak dan harga sahamnya cukup tinggi.
 
Perusahaan berkapitalisasi besar biasanya adalah perusahaan yang sudah cenderung mapan dan bukan sedang bertumbuh. Saat ini, yang termasuk beberapa perusahaan yang berkapitalisasi besar di bursa adalah HMSP, BBRI, BMRI, BBCA, dan TLKM.

Berbeda dengan perusahaan berkapitalisasi kecil, cenderung bertumbuh, kapitalisasinya di pasar biasanya juga kecil.

Pada perusahaan-perusahaan yang sedang bertumbuh, jumlah saham yang beredar sedikit, harganya juga biasa masih murah. Oleh karena itulah, perusahaan-perusahaan yang sedang bertumbuh ini disebut dengan perusahaan lapis 2 atau lapis 3.

Perusahaan-perusahaan kecil dengan kapitalisasi dan likuiditas kecil (jumlah saham yang beredar tidak banyak), mudah sekali digerakkan harganya.

Bahkan, perusahaan-perusahaan kecil tersebut, ada beberapa yang sahamnya cenderung tidur lama, lalu tiba-tiba harganya naik. Inilah yang seringkali disebut dengan saham gorengan, saham yang harganya bergerak bukan karena faktor fundamental, tapi karena digoreng.

Terlepas tentang bagaimana para market maker menggoreng saham, apakah saham-saham yang digerakkan ini bisa kita manfaatkan untuk mendapat keuntungan? Semua saham bisa mendatangkan keuntungan, tergantung pada timing, dan timeframe/kebutuhan kita. Maksudnya bagaimana?

Jika Anda seorang pemula dalam dunia saham, maka sebaiknya Anda mencoba untuk memilih saham berkapitalisasi besar. Buat pemula, rentang waktu yang dipilih pun sebaiknya juga rentang waktu panjang, untuk investasi jangka panjang.

Mengapa pemula investasi jangka panjang di saham big caps? Simpel, karena perusahan besar risiko collapse nya kecil, dan sudah cukup stabil kinerjanya.

Nah, jika Anda sudah mulai banyak belajar tentang saham, bisa melangkah dalam strategi yang lebih tinggi reward nya. Trading saham lapis 2 dan 3 (alias saham gorengan) memang asyik. Keuntungan yang didapat jauh lebih besar dan cepat, dengan modal lebih kecil. Namun jangan lupa, setiap ada reward/ imbal hasil besar, di situ pasti juga ada risiko yang lebih besar mengikuti.

Untuk trading yang kurang likuid dan kapitalisasinya kecil, fluktuasinya juga cenderung liar, dibutuhkan pembelajaran yang lebih mendalam. Untuk trading saham lapis 2 dan 3, dibutuhkan kemampuan melakukan analisis teknikal, mindset yang benar, dan kedisiplinan. Kedisiplinan yang dimaksud adalah kedisiplinan dalam membatasi risiko, membeli dan menjual sesuai dengan perencanaan.

Bagi teman-teman yang masih pemula, memang belum disarankan untuk trading apalagi pada saham berkapitalisasi kecil yang mudah digoreng.

Lihat saja saham INAF yang melaju lebih dari 20% dalam sehari, imbal hasil trading saham lapis 3 memang luar biasa, tapi jangan lupakan manajemen risiko.

Tidak jarang pula yang merugi karena fluktuasi trading saham gorengan. Belum lagi jika pergerakan saham tersebut terlalu liar sehingga masuk UMA. UMA adalah Unusual Market Activity. Jika sebuah saham masuk UMA, waspadai risiko saham tersebut ter suspen perdagangannya oleh BEI.

Risiko lainnya adalah risiko likuiditas. Ketika sebuah saham lapis 3 digoreng, saham itu cenderung ramai diperdagangkan. Tapi ketika “market maker” sudah meninggalkan saham tersebut dan beralih ke saham lain, maka bisa jadi tidak ada perdagangan sama sekali di situ.

Akibatnya, banyak sekali investor retail yang terjebak dan tidak bisa menjual sahamnya, karena tidak ada yang mau membeli. Risiko likuiditas ini tidak terjadi pada saham berkapitalisasi besar. Meskipun harga sahamnya turun, tetap likuid dan mudah diperjualbelikan.

Perbandingan trading saham blue chips dan saham gorengan juga bisa dilihat dari besarnya modal yang diperlukan.

Untuk mendapatkan target profit yang sama, dalam trading saham gorengan dibutuhkan modal lebih kecil. Contohnya seperti ini, untuk mendapat keuntungan Rp 5 juta, maka jika Anda trading saham blue chips dengan target profit 5%, diperlukan modal Rp 100 juta. Sebaliknya, karena fluktuasinya yang liar (sehari bisa naik 20%), maka untuk mendapat profit Rp 5 juta, hanya dibutuhkan modal Rp 25 juta.

Menarik yah? Ya sangat menarik sekali. Banyak alumni Trading Profits dan alumni Rocket Profits yang sudah berhasil. Mereka yang sudah berhasil adalah orang-orang yang siap untuk membatasi risiko dengan konsisten, tidak hanya mengejar keuntungan.

Ingat, meminimalkan risiko 100 kali lebih penting dari mengejar keuntungan. Pasar adalah tempat untuk memindahkan uang dari yang tidak sabaran ke orang yang sabar.

Semoga apa yang saya bagikan hari ini dapat bermanfaat dan salam profit! on.fb.me/ellen_may/instagram @ellenmay_official

(drk/drk)