Ubah Paradigma: Investasi di Pasar Modal Itu Mudah dan Murah

Ubah Paradigma: Investasi di Pasar Modal Itu Mudah dan Murah

Dina Rayanti - detikFinance
Senin, 25 Jan 2016 17:54 WIB
Ubah Paradigma: Investasi di Pasar Modal Itu Mudah dan Murah
Jakarta - Pasar modal Indonesia masih memiliki potensi besar untuk terus tumbuh dalam jangka panjang jika dilihat dari penetrasi pasar terhadap perekonomian domestik.

Meski demikian, diperlukan sosialisasi secara berkelanjutan yang melibatkan berbagai pihak agar pemahaman tentang literasi pasar modal kepada masyarakat dapat terus berkembang.

Salah satu pemahaman yang harus terus disosialisasikan kepada masyarakat adalah investasi di pasar modal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Paradigma yang harus dibentuk adalah investasi di pasar modal itu mudah, terencana, dan murah.

Sebab, sampai dengan saat ini, masih banyak masyarakat Indonesia yang menilai bahwa investasi di pasar modal merupakan sesuatu hal yang rumit, berisiko, dan mahal.

Meski begitu, menurut Direktur Pengembangan BEI, Nicky Hogan, jumlah investor Indonesia di ASEAN lebih tinggi jika dibandingkan dengan Filipina.

"Secara jumlah perbandingannya di ASEAN lebih tinggi daripada Filipina, potensi Indonesia besar, kita sudah lakukan survei di 9 kota besar. Dengan hasil survei itu, orang-orang atau penduduk yang punya penghasilan lebih dari Rp 10 juta dan tahu mengenai pasar modal cuma 800 ribu dan itu ada di 9 kota, kalau yang di atas Rp 5 juta penghasilannya, itu mungkin ada 2 juta orang yang tahu, tinggal gimana kita konversikan mereka dari tahu menjadi tertarik, dan membuka rekening untuk jadi investor," ujar Nicky usai menghadiri acara jumpa pers Pesta Reksa Dana 2016, di Gedung BEI, Jakarta, Senin (25/1/2016).

Terkait jumlah investor di reksa dana, Nicky mengatakan, tidak mempunyai data yang pasti untuk jumlah investor di reksa dana.

"Kita tidak memiliki data yang terlalu detail, pertahun 230.000. Kita di bursa lebih fokus dengan investor yang SID (tunggal)," tambah Nicky.

Ia juga menanggapi perihal peningkatan jumlah investor di tengah perekonomian yang melemah di 2016 ini.

"Investor kita yang kita arahkan adalah investor untuk jangka panjang, kalau konteks jangka panjang, sebenarnya pasar seperti apa pun adalah tidak masalah, kalau saya membeli saham untuk 5-10 tahun lagi, ya kan kita tidak bicara orang membeli saham bulan depan kondisi perekonomian seperti apa 6 bulan lagi, tapi kalau untuk 5-10 tahun lagi, nggak usah peduli dengan naik turun karena orientasinya jangka panjang," tutup Nicky.

Sebagai contoh, salah satu produk pasar modal adalah reksa dana. Saat ini, sudah banyak perusahaan sekuritas atau Manajer Investasi, dan perbankan menjual berbagai jenis reksa dana. Setoran awal mulai dari Rp 100.000.

(drk/drk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads