BCA Sediakan Rp 6 Triliun untuk Biayai Infrastruktur

BCA Sediakan Rp 6 Triliun untuk Biayai Infrastruktur

- detikFinance
Selasa, 08 Mar 2005 18:43 WIB
Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk., (BCA) menyediakan dana sebesar Rp 5 triliun-Rp 6 triliun untuk pembiayaan infrastruktur. Saat ini total biaya yang sudah dikeluarkan untuk infrastruktur Rp 2,2 triliun."Untuk infrastruktur kita punya dana yang disediakan sebesar Rp 5 triliun-Rp 6 triliun," kata Dirut BCA Setijoso dalam jumpa pers kinerja BCA Tahun 2004 di Wisma BCA, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta, Selasa, (8/3/2005).Menurut Setijoso, ada beberapa kriteria yang diperhatikan BCA untuk pembiayaan infrastruktur, yakni feasibility, IRR project dan periode risiko untuk konstruksi.BCA menurutnya, tidak akan membiayai proyek yang melampaui waktu hingga 10 tahun karena dari sisi risiko hal ini tidak dapat dipertanggungjawabkan, sehingga harus melakukan project financing yang jangka waktunya harus di bawah tujuh tahun.Dia juga menegaskan, untuk pembiayaan infrastruktur disyaratkan menggunakan mata uang yang sama. Contohnya, jika suatu perusahaan pendapatannya memakai rupiah maka pembiayaannya juga harus dengan rupiah.Sementara itu, Direktur Keuangan BCA Jahjah Setiaatmadja mengatakan, tahun ini BCA akan mendanai proyek bandara di Makassar sebesar Rp 300 miliar. Menurutnya, beberapa proyek infrastruktur yang dilirik BCA adalah jalan tol, pembangkit listrik dan proyek bandara di kota-kota besar. Kemungkinan dana untuk proyek infrastruktur baru disalurkan pada triwulan III atau IV karena saat ini baru tahap penunjukkan proyek.Menurutnya, BCA memiliki pendanaan yang kuat karena dana yang dimiliki di SBI mencapai Rp 28 triliun-Rp 30 triliun.Setijoso juga menegaskan, meski saat ini dicanangkan sebagai tahun mikro finance, BCA tidak akan memberikan pinjaman mikro finance secara langsung seperti yang selama ini dilakukan. BCA lebih memilih menyalurkan pinjaman berupa technical assistance ke BPR atau pegadaian. Sementara mengenai unit syariah, hingga kini BCA belum memiliki rencana membuka unit syariah. "Tadinya, kita memang berencana mengakuisisi pengembangan syariah, tapi itu tidak bisa dilakukan karena 50 persen kepemilikan BCA dimiliki asing, di mana dalam peraturan BI asing tidak boleh membuka BPR atau BPR syariah," katanya.Bank NasionalJahja juga mengatakan, dalam struktur Arsitektur Perbankan Indonesia (API), BCA mendeklarasikan sebagai bank nasional yang kuat dan memiliki bisnis internasional."Saat ini BCA sudah memiliki unit usaha di Hongkong dan Singapura, namun BCA juga akan meningkatkan status domestik bank terutama untuk bank pembayaran," katanya.Sementara mengenai rencana merger dan akuisisi, menurutnya, selama ini BCA masih melakukan penjajakan dalam rangka konsolidasi tersebut, namun belum ada satu pun bank yang sudah dipastikan untuk dimerger atau diakuisisi."Untuk akuisisi atau merger BCA memilih bank yang bersikap fokus sebagai pelengkap BCA yang selama ini strategic fit-nya ada di transaction banking," katanya. Mengenai penyaluran kredit, Setijoso mengatakan, BCA juga akan meningkatkan kredit kendaraan bermotor melalui anak perusahaan BCA, Central Sari Finance yang saat ini berganti nama menjadi BCA Finance.Tahun 2005 ditargetkan BCA Finance akan membuka 10 cabang baru dengan target pertumbuhan sebesar 75 persen dari total aset Rp 2 triliun saat ini menjadi Rp 3,5 triliun. (umi/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads