Selama pekan keempat di Januari 2016, investor asing mencatatkan beli bersih di pasar saham dengan nilai Rp 1,58 triliun. Secara tahunan, aliran dana investor asing di pasar saham masih tercatat jual bersih dengan nilai Rp 2,32 triliun.
Β
Rata-rata nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan ini mengalami kenaikan 24,97% menjadi Rp 5,56 triliun dari Rp 4,45 triliun di akhir pekan lalu. Rata-rata volume transaksi harian mengalami kenaikan 30,35% dan rata-rata frekuensi harianΒ mengalami kenaikan 11,38%.
Demikian disampaikan BEI dalam keterangan resminya, seperti dikutip detikFinance, Minggu (31/1/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Utama BEI Tito Sulistio menanggapi keputusan Lembaga Pemeringkat Moody's Investors Service yang kembali mengafirmasi peringkat Indonesia pada level layak investasi (investment grade). Menurut Tito, ketika perekonomian dunia dilanda resesi, laju perekonomian Indonesia memang tergolong stabil.
Hal tersebut terlihat dari laju inflasi di sepanjang 2015 yang mencapai 3,35% secara tahunan (Januari hingga Desember 2015) atau merupakan yang terendah dalam lima tahun terakhir sejak 2010. Di sisi lain, tingkat imbal hasil pasar modal Indonesia dalam lima tahun terakhir masih merupakan yang tertinggi (atau 178,51%) jika dibandingkan pasar modal lain di kawasan Asia Tenggara seperti Thailand (169,61%), Malaysia (127,95%), dan Singapura (90,79%).
"Ke depannya, serangkaian program pengembangan yang telah dan akan kami lakukan akan kami buat dengan lebih baik lagi untuk menunjang pertumbuhan pasar modal dalam jangka menengah dan jangka panjang," tambah Tito.
Sebelumnya, dalam siaran persnya, Moody's menegaskan bahwa permintaan akan peringkat utang negara (sovereign credit rating/SCR) Republik Indonesia pada Baa3/stable outlook. Terakhir kali Moody's melakukan afirmasi atas SCR Indonesia pada Baa3/stable outlook dilakuka pada 18 Januari 2012 silam.
Beberapa faktor kunci yang mendukung keputusan afirmasi bagi SCR Indonesia kali ini adalah pengelolaan keuangan pemerintah yang kuat di tengah peningkatan defisit fiskal. Selain itu, respon dan kebijakan efektif yang dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia menjadi faktor kunci lainnya, khususnya kebijakan dalam mengelola risiko terhadap penurunan harga komoditas dan volatilitas pasar keuangan internasional.
Outlook stabil dinilai Moody's juga mencerminkan bahwa perekonomian Indonesia memiliki ketahanan yang baik khususnya dalam menghadapi tekanan eksternal sebagai akibat dari pelemahan harga komoditas dunia Sehingga meskipun tekanan eksternal terhadap pertumbuhan ekonomi dunia kemungkinan masih akan tetap terjadi, namun perekonomian Indonesia diyakini masih akan mampu untuk tetap tumbuh lebih baik dibandingkan negara dengan peringkat yang sama. (drk/drk)











































