Ekonom Destry Damayanti menilai, pelemahan dolar AS terjadi karena investor melihat data-data makro ekonomi AS yang tidak memuaskan.
Melihat hal tersebut, investor memandang jika negeri adidaya tersebut belum akan memasuki masa recovery atau perbaikan ekonomi. Hal ini membuat dolar AS tertekan terhadap rupiah. Tak hanya itu, dolar AS juga melemah terhadap mata uang di negara-negara Asia lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, Destry mengatakan, perekonomian Indonesia mulai meunjukkan tanda-tanda pemulihan. Hal tersebut bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi yang telah dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa waktu lalu.
Meskipun secara full year 2015, ekonomi Indonesia tumbuh melambat ke 4,79% dibandingkan tahun 2014 yang mencapai 5,02%, namun di kuartal IV-2015, pertumbuhan ekonomi Indonesia naik tinggi ke 5,04%. Hal ini menjadi sentimen positif bagi Indonesia, khususnya terhadap nilai tukar.
"Nah di satu sisi dia melihat Indonesia punya growth story, pertumbuhan kita tahun 2015 kan better than expected, terus juga kalau kita lihat beberapa data leading indicator kan menunjukkkan suatu tren mulai naik," terang dia.
Di samping itu, banyak kebijakan pemerintah yang juga memberikan sentimen positif di pasar keuangan Indonesia. Ini menjadi dorongan tersendiri bagi perekonomian Indonesia, khususnya rupiah.
"Termasuk juga policy kita sudah konsisten dengan perkembangan yang ada, jadi menunjukkan betapa prudent nya regulator Indonesia," pungkasnya.
Hingga siang ini, dolar AS bergerak di Rp 13.405. Dari pembukaan pagi tadi hingga siang ini, mata uang Paman Sam tersebut sudah merosot 1,3%. (drk/ang)











































