Pinjaman tersebut akan digunakan untuk pengembangan mega proyek PPRO, Grand Kamala Lagoon (GKL) di Bekasi, khususnya untuk pembangunan Barclay Tower.
Grand Kamala Lagoon adalah kota yang dibangun dengan konsep 'floating city' karena PPRO memilih untuk menggunakan lanskap naturalnya yang dikelilingi banyak air.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sampai dengan 31 Januari 2016, Tower Barclay (Tower 2) dengan tinggi 44 lantai ini telah selesai dibangun 40% dan ditargetkan rampung pada tahun 2018.
Tower ini telah terjual sebanyak 50% dari 2.028 unit dengan harga Rp 500-Rp 600 jutaan per unit atau Rp 20 juta per m2.
Selain tower apartemen, PPRO akan membangun pusat perbelanjaan dengan area sewa bersih seluas 20.000 m2 - 25.000 m2 di proyek GKL. Hal ini tentunya akan semakin memanjakan konsumen karena mendapatkan lokasi hunian dan komersial yang terintegrasi.
Indaryanto, Direktur Keuangan PP Properti, menjelaskan fasilitas kredit ini diberikan dengan tenor 5 tahun dan suku bunga 11,15% per tahun (floating).
"Komitmen pendanaan akan memperkuat product offering kami untuk kelas menengah. Kami juga yakin proyek ini akan disambut para konsumen dengan antusias karena memiliki lokasi yang strategis dan fasilitas yang lengkap," ujar Indaryanto.
Indaryanto menuturkan, bentuk kepercayaan dari Bank ICBC terhadap mega proyek yang tengah dikerjakan perseroan akan memberikan dampak positif ke konsumen karena akan memperkuat modal kerja.
Hal ini akan meningkatkan kepastian dan jaminan bagi PPRO bahwa pembangunan tower Barclay di proyek GKL ini akan berjalan lancar dan selesai tepat pada waktunya.
Sebagai bukti tingginya minat konsumen terhadap proyek GKL, sepanjang tahun lalu proyek ini membukukan pra penjualan sebesar Rp 572 miliar, sedangkan mega proyek lain yakni Grand Sungkono Lagoon (GSL) mencatatkan pra penjualan Rp 425 miliar.
Dengan demikian, kedua proyek ini menyumbang prapenjualan hampir Rp 1 triliun. Pada tahun ini, PPRO menargetkan marketing sales Rp 2,6 triliun, ata unaik 30% dibandingkan capaian pada tahun 2014.
Dari sisi keuangan, neraca BUMN properti ini pada 30 September 2015 terbilang sangat solid, dengan rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio) mencapai 0,84 kali. Hal ini berarti ekuitas PPRO masih lebih besar dibandingkan dengan utang.
Sementara itu, utang bank jangka panjang PPRO sampai saat ini tercatat Rp 200,32 miliar, sangat kecil dibandingkan ekuitasnya yang mencapai Rp 2,12 triliun. Hingga 22 Februari 2016, kapitalisasi pasar PPRO tercatat mencapai Rp 2,71 triliun. (drk/drk)











































