Tahun Monyet Api, Faisal Basri: IHSG Bisa Naik Tinggi

Tahun Monyet Api, Faisal Basri: IHSG Bisa Naik Tinggi

Cindy Audilla - detikFinance
Rabu, 02 Mar 2016 14:42 WIB
Tahun Monyet Api, Faisal Basri: IHSG Bisa Naik Tinggi
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Perekonomian Indonesia saat ini dinilai lebih baik terlihat dari kondisi bursa saham yang mulai menunjukkan penguatannya. Selain itu, posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga terus menguat.

"Daya tahan perekonomian Indonesia relatif baik. Lihat saja hari ini rupiah kita (Rp 13.273). Jadi dapat dikatakan segi daya tahan Indonesia secara keseluruhan masih berada di zona positif dan relatif oke. Capital flow (aliran dana) pun positif," kata Ekonom Faisal Basri dalam Acara Market & Economic Outlook 2016 "Strategi Investasi di Tahun Monyet", di Jakarta, Rabu (2/3/2016).

Dia menyebutkan, Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) perlahan mulai menguat. Secara year to date (ytd), IHSG sudah naik di kisaran 4%, meskipun secara year on year (yoy) masih mencatat minus 14%. Siang ini, IHSG 'lompat' 1,10% ke 4.831,759.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bicara soal saham, saham kita lumayan, year to date-nya 4%. Walaupun year on year-nya masih minus 14%. Ditambah lagi, saat ini Indonesia dalam 2 minggu berturut-turut berada di posisi nomor 1 terbaik dunia (in USD terms). Dengan emerging market yang positif yakni 5,9%," sebut dia.

Menurut Faisal, jika IHSG terus meroket, maka tidak menutup kemungkinan akan bisa menjadi terbaik di dunia.

"Jadi pesan saya, untuk Bapak, Ibu para investor dalam negeri yang hadir di sini, belilah saham di dalam negeri, berinvestasilah di dalam negeri, sebelum saham ke 4.500 lagi," kata dia.

Faisal menambahkan, positifnya IHSG dan rupiah juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi lebih baik. Dia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan berada di angka 5,2%.

"Saya sendiri pun sejujurnya masih sangat optimistis Indonesia bisa mencapai 5,2%. Saya bahkan lebih optimistis dari yang diprediksikan majalah-majalah ekonomi, IMF, dan Bank Indonesia," tandasnya. (drk/drk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads