Tak hanya itu, Faisal juga mengkritik kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Menteri BUMN Rini Soemarno soal penyesuaian Net Interest Margin (NIM) perbankan. Menurutnya, terkait suku bunga tidak semestinya pemerintah ikut mengatur, hal tersebut biarlah perlahan turun secara alamiah.
"Suku bunga bank itu turun otomatis. Musuh dari menurunkan suku bunga adalah pemerintah sendiri. Di sinilah sering terjadi inkonsistensi. Jadi, siapa sebenarnya nahkoda ekonomi saat ini? Jusuf Kalla, Rini Soemarno, atau siapa?," ujarnya dalam Acara Market & Economic Outlook 2016 "Strategi Investasi di Tahun Monyet", di Jakarta, Rabu (2/3/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya berpesan sekali lagi kepada para investor dalam negeri harus berhati-hati terhadap saham BUMN yang rentan terhadap intervensi harga pemerintah," kata Faisal.
Bahkan, Faisal tak segan-segan menyebut jika Rini dan OJK telah salah merencanakan kebijakan di sektor keuangan, yang membuat pasar keuangan sempat 'goyang'.
"Misalnya OJK kemarin yang menyarankan pembelian SUN harus lebih banyak. Itu hal yang norak dan tidak benar. Akibatnya adalah akan ada kira-kira modal dari bank menjadi netto-nya negatif. Saham-saham bank akan turun. Rini Soemarno adalah salah satunya yang melakukan kesalahan, minta bank-bank dengan NIM-nya 4%," terang Faisal. (drk/ang)











































