Rupiah Menguat, Dana Asing Harus Dibuat Betah di Dalam Negeri

Rupiah Menguat, Dana Asing Harus Dibuat Betah di Dalam Negeri

Maikel Jefriando - detikFinance
Senin, 07 Mar 2016 10:56 WIB
Rupiah Menguat, Dana Asing Harus Dibuat Betah di Dalam Negeri
Foto: rengga sancaya
Jakarta - Nilai tukar rupiah memiliki tren menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), ekonomi nasional bisa terlihat membaik secara kasat mata. Ini kesempatan baik bagi pemerintah membenahi ekonomi dalam negeri.

"Jangan cuma happy (rupiah menguat), manfaatkan kesempatan untuk berbenah lebih cepat," kata Chatib Basri, Visiting Fellow, University of California, San Diego saat berbincang dengan detikFinance, Senin (7/3/2016).

Solusi yang bisa dilakukan adalah dengan mendorong aliran dana asing (capital inflow) yang masuk tidak hanya ke pasar keuangan, melainkan investasi langsung di sektor rill. Sehingga dana asing tersebut tidak hanya menjadi hot money atau uang panasΒ  yang bisa masuk dan keluar kapan pun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Langkah ini sudah dilakukan pemerintah dengan membuka investasi asing lewat revisi Daftar Negatif Investasi (DNI). Di mana banyak sektor yang dibuka lebih luas untuk investor swasta, baik asing atau lokal masuk sebagai pemilik modal mayoritas.

"Jadi bukan portfolio (sektor keuangan), tapi foreign direct investment (FDI). Kalau FDI itu kan jangka menengah panjang, duitnya lebih lama di Indonesia," jelasnya.

Selanjutnya adalah, dengan menahan penguatan rupiah agar tidak terlalu tajam, yang bisa dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) dan pemerintah. Tujuannya agar pelemahan ekspor nantinya masih dapat terkendali.

"Jadi kalau misalnya tadi dolar Rp 13.500 terus menjadi Rp 12.000, dan kalau balik ke 13.500 itu akan membuat investor kaget lagi walaupun ceritanya berulang. Tapi coba di keep di Rp 13.000, kalaupun balik ke Rp 13.500 kan tidak terlalu jauh," terang mantan Menteri Keuangan tersebut.

Pemerintah juga harus bisa mengatur belanja untuk pembangunan infrastruktur. Selain mempengaruhi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ini juga akan berpengaruh terhadap impor agar tidak sampai melonjak drastis.

Antisipasi lainnya bisa dilakukan oleh BI, dengan menjaga suku bunga pada level yang lebih rendah. Meskipun ini bergantung pada realisasi inflasi yang berhasil dikendalikan.

"Kalau inflasi turun, ada ruang turunkan bunga. kalau bunganya rendah orang nggak terlalu tertarik ke portfolio (investasi sektor keuangan)," tukasnya.

Dengan demikian, risiko yang selalu muncul ketika arus dana asing masuk bisa diantisipasi. Semua pihak boleh melanjutkan kebahagian dengan perekonomian yang lebih baik. "Mudah-mudahan dalam beberapa tahun ke depan bisa bilang this time is different," ujar Chatib. (mkl/wdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads