Menurut Ketua Asosiasi Perusahaan Pialang Pasar Keuangan Indonesia atau Indonesia Money Brokers Association (Inamba), Melchias Markus Mekeng, penguatan rupiah masih bisa terjadi. Namun dia mengharapkan penguatan rupiah tidak terjadi terlalu cepat.
"Pada 1997, kita pernah mengalami dolar sampai Rp 16.000. Pada saat itu, Pak Habibie mengambil satu langkah yang cukup bagus sehingga dolar bisa turun ke Rp 6.800. Cuma kalau turunnya terlalu cepat, ini juga buat perekonomian kita, terutama ekspor impor kita, bisa tidak kompetitif terhadap barang di luar negeriΒ kalau terlalu mahal kita punya rupiah. Memang kalau mau turun, harus berkala supaya ekspor kita bisa kompetitif," papar Melchias, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (7/3/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan mudah-mudahan dari harga Rp 12.500/US$, itu masih bisa kompetitif untuk menjual barang mereka," ujar Melchias.
"Dan jangan sampai China mendevaluasi yuan. Itu lebih berbahaya. Kita harus lihat penurunan currency (mata uang) itu harus dikaitkan juga dengan negara sekitar kita," katanya. (wdl/hns)











































