Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Haji Khusus Umrah dan Inbound Indonesia (Aspurindo), Hafidz Taftazani mengungkapkan, sejak akhir Februari sudah terjadi lonjakan permintaan pemberangkatan calon jemaah umrah. Berdasarkan data perdagangan Reuters, Jumat (11/3/2016), posisi dolar AS berada di Rp 12.971.
"Ini semacam keberuntungan buat penyelenggaran haji umrah dengan peningkatan signifikan, kemudian bagi jemaah juga biayanya jadi sangat murah. Desember-Januari belum banyak penuh, sekarang untuk penerbangan Maret sampai April hampir penuh semua penerbangan ke Jeddah," jelasnya kepada detikFinance di Jakarta, Minggu (13/3/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Besar sekali, ada 15 kali penerbangan sehari Indonesia-Jeddah, satu pesawat 300 kursi, kalau sebelumnya terisi kadang setengah atau lebih, Maret-April ini sudah hampir penuh semua sampai 10 April, meningkat berapa persennya saya nggak bisa pastikan," ungkapnya.
Hafidz menuturkan, dengan paket umrah reguler dipatok saat ini di kisaran US$ 1.700, maka biayanya hanya Rp 21.930.000 (kurs Rp 12.900). Sementara, untuk paket umrah plus seperti plus Kairo, plus Al-Aqsa, Istambul berada di kisaran US$ 2.400-2.500.
"Jadi lumayan turunnya pas dari dolar Rp 14.000 sudah turun, jadi kurang lebih Rp 13.000 sekian. Orang langsung pada daftar, demand meningkat penerbangan jadi penuh semua," ujar Hafidz.
Dia melanjutkan, selain umrah, melemahnya dolar AS juga ikut meringankan cicilan ONH (ongkos naik haji) pada jemaah haji.
"Kalau demand umrah naik. Di Haji manfaatnya ada keringanan cicilan buat yang haji ONH. Karena bayar ONH kan menyesuaikan dolar," tutupnya. (drk/drk)











































