Dolar AS Lesu, Waspadai Travel Nakal Tawarkan Harga Umrah 'Miring'

Dolar AS Lesu, Waspadai Travel Nakal Tawarkan Harga Umrah 'Miring'

Muhammad Idris - detikFinance
Minggu, 13 Mar 2016 18:14 WIB
Dolar AS Lesu, Waspadai Travel Nakal Tawarkan Harga Umrah Miring
Foto: Gagah - detikcom
Jakarta - Dolar Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan tren melemah terhadap mata uang rupiah, membuat ongkos perjalanan umrah ke tanah suci ikut turun. Catatan Asosiasi Penyelenggara Haji Khusus Umrah dan Inbound Indonesia (Asphurindo), penerbangan ke Jeddah hingga 10 April hampir semuanya telah terisi penuh.

Kendati demikian, Ketua Umum Asphurindo Hafidz Taftazani mengingatkan, agar calon jemaah umrah tidak mudah tergiur paket umrah dengan harga miring atau tak masuk akal. Menurutnya, banyak agen perjalanan umrah nakal menawarkan paket-paket ibadah murah meriah.

"Dolar turun terus itu bagus sekali buat kita. Hotel, pesawat, katering jadi murah di Arab (Saudi). Tapi yang paling kita takutkan saat demand paket umrah tinggi, banyak yang tawarkan paket umrah yang harganya lebih murah lagi, kurang masuk akal buat kita," jelas Hafidz kepada detikFinance, Minggu (13/3/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Paket-paket umrah dengan harga miring, menurutnya, sudah sering menipu jemaah haji. Akibatnya, banyak jemaah haji batal berangkat, tertunda, tidak mendapatkan fasilitas hotel dan katering sesuai standar, hingga terlantar di tanah suci dan negara transit.

"Ini yang kita paling takut saat demand lagi bagus. Orang naik umrah kan nggak ngenal dia dari kota atau desa, kaya miskin maunya umrah, nggak perlu mereka liburan ke luar negeri. Salah pilih agen akhirnya banyak terlantar di negara lain, batal berangkat, hotel nggak sesuai dan sebagainya," terang Hafidz.

Menururt Hafidz, sebagai gambaran, harga paket umrah reguler saat ini dipatok rarta-rata US$ 1.700 per perjalanan, dan harga paket umrah plus US$ 2.400-2.500. Sementara perjalanan umrah kelas eksekutif di kisaran US$ 2.700-3.000.

"Ada tiga kemungkinan paket umrah yang bermasalah, satu karena mereka susah jual jadi banting harga supaya banyak yang daftar. Kemudian kedua karena memang pengelolaannya kurang bagus, ketiga memang mereka niatnya menipu. Artinya kalau harganya jauh di bawah itu yah patut dipertanyakan," ujarnya. (drk/drk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads