Agar Rupiah Terus Perkasa, Pemerintah Harus Waspadai Isu Ini

Agar Rupiah Terus Perkasa, Pemerintah Harus Waspadai Isu Ini

Maikel Jefriando - detikFinance
Minggu, 20 Mar 2016 10:30 WIB
Agar Rupiah Terus Perkasa, Pemerintah Harus Waspadai Isu Ini
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Nilai tukar rupiah masih dalam tren penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak beberapa pekan lalu. Tapi sayangnya, penguatan yang terjadi masih cenderung terbatas. Dolar AS hanya bergerak di level Rp 13.000.

Pergerakan nilai tukar juga memang dipengaruhi kuat oleh faktor eksternal. Namun isu domestik, tetap berperan penting. Kalangan investor tidak akan mau menempatkan dana pada negara yang tengah bermasalah.

Eric Sugandi, Ekonom Kenta Institute menilai isu yang patut diwaspadai bagi pemerintah adalah defisit anggaran. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016, defisit dipatok sebesar 2,15%. Namun dimungkinkan melebar akibat target pajak yang terlalu tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang harus diwaspadai itu resiko pembengkakan defisit APBN jika pemerintah tidak bisa penuhi target penerimaan. Berita tentang pembengkakan defisit APBN akan direspon negatif investor asing di pasar obligasi. Itu yang resiko domestik," papar Eric kepada detikFinance, Minggu (20/3//2016).

Isu lainnya adalah kegaduhan dalam tubuh pemerintahan. Akan tetapi, menurut Eric pengaruhnya tidak terlalu signifikan, walaupun berujung kepada pergantian menteri nantinya.

"Kalaupun ada reshuffle, selama posisi menteri-menteri ekonomi, terutama Menkeu tidak diganggu, impact-nya ke rupiah nggak signifikan," terangnya.

Dari sisi eksternal, risiko bisa datang dari kebijakan-kebijakan negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Jepang dan Eropa. Termasuk juga China yang masih penuh ketidakpastian dari kondisi perekonomiannya.

"Sementara ini risiko-risiko eksternal dan domestik masih kecil," tegas Eric.

Eric melihat rupiah masih akan terus mengikuti tren penguatan, selama fundamental perekonomian dalam negeri bisa membaik.

"Kalau fundamental ekonomi Indonesia terus membaik dan kondisi global mendukung, nilai par rupiah berdasar fundamental bisa terus menguat ke rentang Rp 12.500-Rp 13.000," paparnya. (mkl/feb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads