Pergerakan nilai tukar juga memang dipengaruhi kuat oleh faktor eksternal. Namun isu domestik, tetap berperan penting. Kalangan investor tidak akan mau menempatkan dana pada negara yang tengah bermasalah.
Eric Sugandi, Ekonom Kenta Institute menilai isu yang patut diwaspadai bagi pemerintah adalah defisit anggaran. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016, defisit dipatok sebesar 2,15%. Namun dimungkinkan melebar akibat target pajak yang terlalu tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Isu lainnya adalah kegaduhan dalam tubuh pemerintahan. Akan tetapi, menurut Eric pengaruhnya tidak terlalu signifikan, walaupun berujung kepada pergantian menteri nantinya.
"Kalaupun ada reshuffle, selama posisi menteri-menteri ekonomi, terutama Menkeu tidak diganggu, impact-nya ke rupiah nggak signifikan," terangnya.
Dari sisi eksternal, risiko bisa datang dari kebijakan-kebijakan negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Jepang dan Eropa. Termasuk juga China yang masih penuh ketidakpastian dari kondisi perekonomiannya.
"Sementara ini risiko-risiko eksternal dan domestik masih kecil," tegas Eric.
Eric melihat rupiah masih akan terus mengikuti tren penguatan, selama fundamental perekonomian dalam negeri bisa membaik.
"Kalau fundamental ekonomi Indonesia terus membaik dan kondisi global mendukung, nilai par rupiah berdasar fundamental bisa terus menguat ke rentang Rp 12.500-Rp 13.000," paparnya. (mkl/feb)











































