Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 15 Mar 2005 10:57 WIB

Di Balik Pembelian HM Sampoerna oleh Philips Morris

- detikFinance
Jakarta - Pembelian saham HM Sampoerna oleh Philip Morris International (PMI) dengan nilai transaksi diperkirakan mencapai US$ 5,2 miliar akan semakin mengukuhkan posisi Philips Morris di pasar rokok dunia. Meski dibayangi keluarnya perda larangan merokok, Philip Morris tak gentar dan tetap meyakini pasar rokok di Indonesia yang saat ini menduduki peringkat kelima dunia akan terus tumbuh."Ambisi kami adalah bersama-sama akan menjadi pemimpin pasar di Indonesia, sebaik pertumbuhan rokok Marlboro. Untuk berpartisipasi secara penuh di pasar Indonesia, anda harus menyuguhkan apa yang diinginkan konsumen," kata Chief Executive Altria yang merupakan induk dari PMI Louis Camilleri dalam conference call dengan wartawan dan analis Senin (14/3/2005) malam kemarin. HM Sampoerna saat ini merupakan satu dari 3 produsen rokok yang menguasai pangsa pasar Indonesia. Sekitar 80 persen pangsa rokok di Indonesia dikuasai oleh 3 produsen utama yakni Gudang Garam, Sampoerna dan Djarum. Sampoerna sendiri selama tahun 2004 menguasai 19,4 persennya. Sementara sekitar 17 persen pangsa rokok dikuasai oleh industri rokok kecil. Selama tahun 2004, Sampoerna berhasil mencatat pendapatan bersih hingga Rp 9 triliun dengan produksi sebesar 41 miliar rokok. Indonesia sendiri saat ini merupakan pasar rokok terbesar kelima setelah Cina, AS, Rusia dan Jepang. Menurut sejumlah analis diperkirakan 60 persen dari pria di Indonesia adalah perokok, sementara jumlah wanita perokok juga diperkirakan terus meningkat. Atau dengan kata lain, Indonesia adalah pangsa pasar yang sangat menggiurkan. "Saya kira Indonesia adalah pasar yang sangat menarik, dengan pertumbuhan penduduk menjadi sekitar 210 juta dan terus meningkatnya jumlah perokok dengan cukup significan," kata analis dari Prudential, Robert Campagnino dalam laporan penelitiannya seperti dilansir AP.Sejumlah analis lainnya menyatakan, ekspansi besar-besaran Philip Morris ini adalah dalam rangka memperluas pangsa pasar internasionalnya setelah pangsa pasarnya di AS mendapat hambatan dari pemerintah AS. Selain itu juga pasar PMI terdesak oleh meningkatnya kepedulian atas risiko kesehatan akibat rokok terutama di AS dan Eropa. "Pasar di AS tidak tumbuh pada level yang diharapkan. Selain itu juga bakal munculnya hambatan bagi perokok di Eropa Barat. Sementara di beberapa negara berkembang, ancaman itu tidak ada," kata analis dari Argus, Erin Smith. Tahun lalu, penjualan domestik Philip Morris hanya tumbuh 3 persen menjadi US$ 17,51 miliar, sementara penjualan internasionalnya justru melonjak hingga 18 persen menjadi US$ 39,54 persen. Selain itu, pembelian Sampoerna, akan menjadikan PMI sebagai produsen rokok terbesar kedua di Indonesia. Menurut Camilleri, PMI AS dan bisnis rokok internasionalnya akan membuatnya menjadi perusahaan rokok yang tercatat di bursa terbesar di dunia. Dengan transaksi senilai US$ 5,2 miliar ini akan memuluskan langkah PMI di pangsa kretek yang selama ini menguasai pangsa pasar Indonesia hingga 92 persen atau sekitar 210 miliar batang. Sementara PMI dengan produk andalannya Marlboro hanya menguasai 8 persennya. "Dengan demikian jelas bahwa tanpa rokok kretek, Philips Morris Internasional tidak akan memperoleh kehadirah yang berarti di Indonesia," kata Camilleri. Philips Morris sendiri saat ini menguasai 14,5 persen pangsa pasar rokok internasionalnya, Rokok andalannya Marlboro dan L&M diproduksi di lebih dari 60 pabrik di seluruh dunia dan dijual di lebih dari 160 negara. Seperti diketahui, Senin kemarin, Philips Morris International Inc (PMI) mengumumkan rencananya untuk membeli saham HM Sampoerna senilai US$ 5,2 miliar atau Rp 48 triliun. Jumlah ini sudah termasuk utang bersih sekitar Rp 1,5 triliun dan dengan asumsi semua saham dijual melalui penawaran tender. Rencananya PMI akan menghargai setiap saham yang dibelinya sebesar Rp 10.600 atau berarti premium sebesar 20 persen diatas harga penutupan pada Kamis pekan lalu sebesar Rp 8.850. PT Philip Morris Indonesia, yang merupakan afiliasi PMI telah menandatangani perjanjian jual beli untuk mengakuisisi 40 persen saham HMSP dengan harga Rp 10.600 dengan total mencapai Rp 18,6 triliun (US$ 2 miliar) dari sejumlah pemegang saham prinsipal HMSP.Selanjutnya PMI akan melakukan penawaran tender untuk 100 persen sisa saham HMSP yang telah dikeluarkan dan disetor penuh. Transaksi ini diperkirakan mencapai US$ 5,2 miliar atau sekitar Rp 48 triliun.Untuk transaksi ini, PMI menunjuk Credit Suisse First Boston dan penasehat hukum Clifford Chance LLP dan Mohtar Karuwin Komar. Tercatat kepemilikan Sampoerna saat ini adalah Dubuis Holding ltd (32,41 persen), Norbax Inc USA (6,24 persen), PT Lancar Sampoerna Bestari (5,2 persen), Komisioner yakni Boedi Sampoerna (1,39 persen), Soetjahjono Winarko (0,02 persen), James Paul Bernes (0,00 persen), serta pemegang saham lain dengan kepemilikan kurang dari 5 [ersen sebesar 54,74 persen. Sampoerna sendiri tercatat di BEJ sejak 27 Agustus 1990. Dari generasi pendiri kerajaan bisnis Sampoerna, saat ini tercatat Putera Sampoerna masih aktif sebagai presiden komisaris. Namun sejauh ini belum ada penjelasan resmi kenapa keluarga Sampoerna rela melepas bisnis yang sudah dirintis sejak tahun 1913 ini. Sempat disebut-sebut keluarga Sampoerna ingin keluar dari bisnis rokok dan beralih ke bisnis penerbangan dengan membeli Merpati yang saat ini tengah terbelit utang.

(qom/)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com