Kenaikan laba tersebut terutama didorong oleh realisasi dari valuasi investasi sebesar Rp 1,1 triliun dari PT Merdeka Copper Gold Tbk yang tahun lalu menjadi perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Penurunan harga komoditas dan kondisi perekonomian domestik yang cukup dinamis selama 2015 telah memangkas laba bersih anak usaha dari Rp 764 miliar menjadi Rp 477 miliar. Perusahaan juga mengalami kerugian kurs sebesar Rp 272 milliar dan peningkatan beban bunga sebesar Rp 91 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keputusan investasi yang dilakukan selama 2015 telah melalui proses yang detail dan sangat selektif. Kami optimistis investasi tersebut akan semakin memperkuat portofolio Saratoga, menciptakan sinergi dan mampu menjaga bisnis perusahaan tumbuh secara berkelanjutan," jelas Michael dalam siaran pers, Kamis (31/03/2016).
Michael menambahkan, tahun lalu terdapat lebih dari 100 proposal penawaran dari berbagai peluang investasi yang masuk di mana sebanyak 39 di antaranya sampai tahap due dilligence dan menetapkan 3 investasi baru senilai Rp 300 miliar.
Saratoga mengakuisisi saham PT Agra Energi Indonesia, perusahaan yang melakukan tahap awal eksplorasi minyak dan gas yang berfokus pada eksplorasi aset dan laut dalam di Indonesia Timur.
Melalui akuisisi terhadap saham PT Batu Hitam Perkasa, Saratoga mempunyai kepemilikan di Paiton Energy, salah satu IPP terbesar di Indonesia.
Perusahaan ini mengoperasikan dua unit pembangkit listrik: Unit 7/8 dan unit 3 dengan kapasitas total pembangkit 2.035MW dan merupakan bagian dari Paiton Power Station yang melayani jaringan listrik Jawa-Bali.
Aktivitas investasi ketiga dilakukan pada Heyokha Investment, sebuah perusahaan investasi yang memungkinkan Saratoga untuk memperluas kemampuan dalam berinvestasi di ekuitas publik dan swasta.
Untuk mendukung kegiatan investasi, Perseroan berhasil menerbitkan Exchangeable Bond senilai US$ 100 juta dengan skema PUT 3 (Penawaran Umum Terbatas) tenor 5 tahun dan kurs tetap (fixed rate) sebesar 3% per tahun (dengan yield to maturity sebesar 3.75%). (ang/dnl)











































