Rugi Krakatau Steel Bengkak 117% Jadi Rp 4,16 T

Rugi Krakatau Steel Bengkak 117% Jadi Rp 4,16 T

Dina Rayanti - detikFinance
Senin, 04 Apr 2016 19:24 WIB
Rugi Krakatau Steel Bengkak 117% Jadi Rp 4,16 T
Foto: Dina Rayanti
Jakarta - PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) mencatat kerugian sebesar US$ 320,02 juta atau setara dengan Rp 4,160 triliun di tahun 2015 (kurs Rp 13.000). Rugi tersebut melonjak sekitar 117,56% dari rugi tahun sebelumnya sebesar US$ 147,11 juta atau sekitar Rp 1,912 triliun. Kerugian ini membuat perseroan tidak membagikan dividen ke pemegang saham.

Demikian disampaikan Direktur Utama Krakatau Steel Sukandar, dalam konferensi persnya di Balai Kartini, Jakarta, Senin (4/4/2016).

Sukandar menjelaskan, kerugian ini salah satunya disebabkan oleh peningkatan kelebihan pasokan baja dunia terutama Tiongkok yang mencapai 111 juta ton pada 2015, dibanding 83 juta ton pada tahun 2014, yang berdampak pada penurunan harga baja domestik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Oleh karena itu, manajemen Krakatau Steel terus menerapkan efisiensi biaya guna menyiasati penurunan harga baja dunia. Sepanjang 2015, realisasi efisiensi mencapai US$ 17,98 juta yang berasal dari optimalisasi operasional, penurunan Non Conforming Product, efisiensi biaya angkutan, dan restrukturisasi organisasi.

Perseroan juga berhasil menekan Beban Pokok Penjualan sehingga pada semester II-2015 mengalami penurunan sebesar 8,2% dibanding semester I-2015, selanjutnya penurunan Beban Pokok Penjualan tersebut mampu menekan kerugian kotor sebesar 73% dibanding semester I-2015 yaitu dari US$ 73 juta menjadi US$ 20 juta.

Langkah lain yang dilakukan perseroan guna menghadapi tekanan yang dialami bisnis baja adalah dengan melakukan upaya perbaikan non operasional seperti pengendalian belanja modal, mengusulkan dukungan dari pemerintah dan melakukan upaya sinergi BUMN.

"Sinergi BUMN dilakukan seperti bersana dengan PLN dimana Krakatau Steel akan memasok produk baja untuk proyek jaringan transmisi, BUMN karya untuk kebutuhan baja proyek infrastruktur dan swasta, BUMN semen hingga BUMN perkapalan dan manufaktur," kata Sukandar. (drk/drk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads