Meredupnya kinerja group dari Citi Bank ini dipengaruhi oleh terpuruknya kinerja kredit di sektor energi, sedangkan di sisi berbeda Citi mengalami kenaikan beban usaha.
Seperti dikutip dari BBC, Minggu (17/4/2016), Citi yang saat ini sedang melakukan restrukturisasi dan fokus ke bisnis yang lebih menjanjikan, mengalami penurunan laba dari US$ 2,5 miliar menjadi US$ 4,8 miliar pada triwulan I.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Chief Executive Citigroup, Michael Corbat menjelaskan pihaknya kini sedang mengarah menjadi institusi keuangan yang lebih simple, kecil, aman dan kuat.
Selain itu, peringkat Citi dari sisi aset juga turun dari bank aset terbesar ketiga di AS menjadi peringkat keempat setelah disalip oleh Wells Fargo. Sejalan dengan laba, pendapatan tetap Citi anjlok 11,5% menjadi US$ 3,09 miliar, sedangkan pendapatan dari sisi investment banking juga anjlok 27,2% menjadi US$ 875 juta.
"Saat kondisi pasar sangat sensitif karena sentimen negatif investor, kita tetap melanjutkan beberapa langkah di beberapa bidang," ujar Corbat.
Earning per share Citigroup saat ini US$ 1,10, sementara para analis memproyeksi earning per share mendekati angka US$ 1,03.
Industri perbankan global diakui memang sedang berjuang keras di tengah ketidakpastian proyeksi ekonomi dunia, karena perlambatan ekonomi China dan turunnya harga minyak.
Penurunan kinerja Citi juga dialami oleh lembaga keuangan asal AS lainnya. Pada awal bulan, JP Morgan melaporkan penurunan laba 6,7%, Bank of America turun 13%, dan Wells Fargo turun 7%.
Ketiga bank asal AS tersebut juga menderita karena pengaruh kredit di sektor energi. (feb/feb)











































