Sebelumnya Rugi, Kebun Sawit Bakrie Untung Rp 148 Miliar

Sebelumnya Rugi, Kebun Sawit Bakrie Untung Rp 148 Miliar

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Selasa, 10 Mei 2016 10:18 WIB
Sebelumnya Rugi, Kebun Sawit Bakrie Untung Rp 148 Miliar
Foto: Febri Angga Palguna
Jakarta - PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) membukukan laba bersih Rp 148 miliar d kuartal I-2016. Periode yang sama tahun sebelumnya masih rugi Rp 88 miliar.

Sementara nilai penjualan dicatat Rp 334 miliar sepanjang tiga bulan pertama tahun 2016. Penjualan ini ditopang dari komoditas sawit dengan nilai penjualan Rp 245 miliar dan komoditas karet Rp 89 miliar.

Perseroan merevitalisasi perkebunan dan fasilitas produksi untuk menjaga produktivitas kebun inti sawit dan karet, di tengah masih lemahnya harga komoditas CPO (Crude Palm Oil) dan karet dunia di kuartal 1-2016, diskon harga domestik CPO akibat kebijakan pungutan CPO Fund US$ 50 per ton untuk mendukung program biodiesel, dan El-Nino yaitu kondisi cuaca ekstrim udara kering dan kurangnya curah hujan yang menyebabkan kemarau panjang dan kekeringan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami bekerja keras dengan sebaik-baiknya mengatasi kondisi air di kebun akibat kondisi cuaca ekstrim El-Nino tahun lalu, untuk menjaga produktivitas kebun inti sawit dan karet. Kuartal pertama semester pertama umumnya memang siklus produksi rendah, biasanya mulai meningkat pada kuartal kedua dan mencapai puncaknya di kuartal terakhir setiap tahun. Optimalisasi produktivitas pabrik, juga dilakukan dengan pembelian sawit dan karet dari petani yang tidak memiliki pabrik sekaligus membantu kesejahteraan mereka," ujar Direktur Investor Relations UNSP, Andi W. Setianto, dalam keterangan tertulis, Selasa (10/5/2016).

Menurut Andi, harga komoditas sawit utama yaitu CPO masih berada di level bulanan rendah US$ 530 per ton FOB Malaysia di Januari yang membaik ke level US$ 630 di Maret 2016. Data pasar mencatat, trend penurunan harga CPO dari level tertinggi US$ 1.240 di Februari 2011 hingga ke level terendah US$ 480 di Agustus 2015.

Lebih lanjut, Andi menyebut, kondisi El-Nino ditahun 2015 dan program biodiesel domestik menyebabkan berkurangnya ekspor pasokan sawit dunia untuk tahun 2016, dan kondisi itu menjadi katalis perbaikan harga CPO yang mulai terlihat di akhir kuartal 1-2016.

Di sisi lain, kebijakan pungutan CPO Fund US$ 50 per ton untuk mendukung program biodiesel domestik menyebabkan diskon harga domestik CPO yang diterima Perseroan dan petani dari menjual CPO dan FFB (Fresh Fruit Bunch) di pasar lokal.

Bea Keluar CPO yang kembali dipungut Pemerintah mulai Mei 2016 ini, berpotensi menyebabkan berkurangnya pendapatan penjualan produk sawit Perseroan dan petani di pasar lokal.

"Perseroan mengikuti protokol RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) and ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) yang menjunjung tinggi prinsip ramah lingkungan dan keberlanjutan. Kita mempunyai kebijakan "zero-burning" (tanpa membakar) dalam melakukan kegiatan perkebunan khususnya aktifitas land clearing sehingga tidak ada kebakaran lahan yang berasal dari kebun Bakrie," paparnya.

Melalui unit usaha kerja sama patungan PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia ("ASD-BSP"), Perseroan juga telah melakukan inovasi melalui pengembangan bibit unggul yang menghasilkan produksi buah sawit lebih banyak dengan luasan lahan kebun yang sama.

Saat ini, dengan luas pertanaman sawit nasional kurang lebih 10 juta hektar, total produksi hanya sekitar 30 juta ton CPO per tahun, dengan bibit unggul maka potensi produktivitas bisa meningkat menjadi 80 juta ton CPO per tahun setelah program replanting.

Produktivitas bibit unggul ASD-BSP bisa menghasilkan 35 ton buah sawit per hektar dan ekstraksi CPO nya 23%, atau sekitar 8 ton CPO per hektar per tahun, sesuai hasil lapangan bibit unggul ASD-BSP yang sudah disertifikasi.

Dengan bibit unggul, luas lahan kebun tidak perlu bertambah menghasilkan produksi CPO berlipat ganda meningkatkan lagi produksi biodiesel untuk ketahanan energi nasional.

Perseroan melihat bibit unggul dan pendampingan petani pemilik lahan pertanaman sawit nasional kurang lebih 4 juta hektar adalah kunci produktivitas berkelanjutan sawit sebagai komoditas strategis nasional.

Direktur Utama UNSP, M. Iqbal Zainuddin menambahkan, strategi peningkatan produktivitas berkelanjutan yang sedang dilakukan akan lebih banyak lagi dirasakan dampak positifnya dalam jangka menengah dan panjang.

"Melanjuti fokus peningkatan produktivitas kebun dan pabrik, kami akan lanjutkan dengan langkah konkrit peningkatan produktivitas aset lainnya dan perbaikan struktur permodalan. Kami optimis, dalam jangka menengah dan panjang nanti perusahaan ini akan kembali bangkit menemukan momentum yang terbaik menjadi salah satu perusahaan perkebunan yang memiliki fundamental bisnis yang kuat," katanya. (ang/drk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads